DRI IPB

Teri yang kakap

nadjikh
Warta IPTEK

Teri yang kakap

nadjikh

 

 

 

 

 

 

 

Teri yang kakap

“Kalau memulai bisnis,jangan sampai ketika baru mulai langsung membayangkan untung besar dan membangun sistem yang mulukmuluk dan rumit.Yang penting bisnis bisa bergulir dulu.”  (Mohammad Nadjikh, Pengusaha Perikanan)

TERI dan kakap.Dua jenis ikan yang bisa menyimbolkan kehidupan pribadi dan bisnis yang dijalani Mohammad Nadjikh,pengusaha perikanan asal Gresik yang kini menjadi nomor satu di bidangnya karena omzet USD100 juta per tahun. Lantas apa hubungan teri,kakap, dan Nadjikh? Teri,salah satu jenis ikan berbadan kecil ini,menjadi simbol kehidupan Nadjikh di masa lalu.Ya,di masa lalu,khususnya di masa remaja,pria lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB),Fakultas Teknologi Pertanian,Jurusan Teknologi Industri Pertanian,1984 ini hidup serba marginal.Nadjikh di masa lalu hanyalah ”orang kecil”yang bukan siapa-siapa (nobody).Dia dan keluarganya hidup dalam labirin keprihatinan.

Hampir setiap malam, Nadjikh,anak pertama dari delapan bersaudara pasangan Munarjo dan Asnah yang lahir di Gresik,8 Juni 1962,ini belajar hanya ditemani lampu tempel minyak tanah,tak ada listrik. Sehari-hari dia dan keluarga hidup tidak jauh dari ikan. Ayahnya adalah pedagang ikan yang menjajakan dagangan di pinggir jalan Bengawan Solo.Saat sang ayah masih berjualan ikan, kehidupan Nadjikh dan keluarga tergolong cukup untuk ukuran masyarakat Karangrejo,Kecamatan Manyar,Kabupaten Gresik,Jawa Timur,desa yang didiaminya.Kala itu dagangan sang ayah selalu laris karena lokasi berjualannya dilalui banyak orang.Maklum tempat ayahnya menjaja ikan itu merupakan jalur penghubung dari desa ke kota. Tapi,memasuki usia remaja, ketika Nadjikh duduk di bangku SMP,kehidupan keluarganya mulai berubah drastis.Hal ini disebabkan pembangunan jalan tembus yang menghubungkan desa dan kota.

Masyarakat setempat sudah jarang melalui jalan di mana ayahnya berjualan,mereka lebih memilih jalan tembus itu. Ketika Nadjikh duduk di bangku SMA,usaha ayahnya macet, modal pun ludes.Ayahnya tak mampu lagi berjualan.Di masa SMA itulah ekonomi keluarga Nadjikh ambruk.Ayahnya pun mulai sakit-sakitan.Nadjikh mengungkapkan jika saat itu kehidupannya betul-betul prihatin. Tapi,keprihatinan itulah yang melecut dirinya untuk terus maju.

Dia bertekad harus jadi orang sukses agar nasibnya berubah. Walau serbasulit,Nadjikh mencoba menjalani kehidupannya. Beruntung,prestasinya di sekolah menonjol.Nadjikh selalu meraih juara kelas.Setelah lulus SMA,tanpa sepengetahuannya, dia didaftarkan sang guru untuk masuk ke Institut Pertanian Bogor (IPB) lewat jalur tanpa tes. Nadjikh pun dinyatakan lolos seleksi masuk tanpa tes.Tapi, kendala ekonomi berkecamuk di benaknya.Dia memikirkan bagaimana biaya kuliahnya kelak? Waktu itu benaknya menganggap Bogor adalah kota dingin dengan biaya hidup murah.

Tapi,semua itu ternyata salah besar.”Biaya hidup di sana mahal betul,”tegasnya sambil tertawa. Biaya kuliahnya saat itu Rp24 ribu per semester.Tapi,orangtuanya sudah tidak sanggup membiayainya. Nadjikh dibantu sanak saudara ayahnya untuk bisa membiayai kuliah dan kehidupannya sehari-hari.”Untungnya prestasi kuliah juga tidak mengecewakan. Saya tinggal di asrama,jadi lurah di sana,jadinya kos tidak bayar. Makan pun kadang juga tidak bayar,”kata pria yang pernah menduduki posisi Branch Manager di PT (Persero) Karya Nusantara (1985–1989) itu.

Suatu ketika dia pulang ke Gresik. Sang ayah langsung mengatakan jika sudah tidak lagi sanggup membiayai kuliah dan kebutuhan Nadjikh lainnya. Seketika itu juga Nadjikh bingung,kembali ke Bogor atau tetap di Gresik.Sesaat kemudian dia memutuskan berangkat lagi ke Bogor.Nadjikh bertekat ingin menyelesaikan kuliah agar bisa mengubah hidupnya. Di Bogor dia pun harus memutar otak bagaimana bisa bertahan. Dia melamar menjadi guru di sebuah SMA swasta di kota hujan itu,ditambah mengajar lesles privat para murid SMP dan SMA di sore harinya.

Kadang Nadjikh pun diminta menjadi asisten dosen di jurusannya. Aktivitas itulah yang membuat Nadjikh bisa bertahan di Bogor. Dibalik segala cobaan yang mendera,dengan segala perjuangan dan kerja kerasnya,Nadjikh berhasil menyelesaikan kuliah di IPB pada 1984 dengan nilai terbaik.Dia mendapat beasiswa untuk melanjutkan sekolah di luar negeri.Tetapi saat itu yang ada di pikirannya,jika beasiswa diterimanya,dia hanya menjadi seorang pegawai.

Dengan jadi pegawai,dia tidak akan bisa memenuhi kebutuhan orangtua dan ketujuh adiknya. ”Saya ingin adik-adik saya mentas (menyelesaikan sekolah–red) semua,”tandasnya. Akhirnya,setelah lulus,Nadjikh pulang ke Gresik untuk memulai hidup baru sesuai tekadnya menjadi orang besar.

Jadi Pengusaha Teri

Selepas kuliah,Nadjikh mendapat tawaran kerja di Surabaya. Temannya semasa kuliah kebetulan anak seorang direktur BUMN pemrosesan cokelat yang berada di bawah pengelolaan Departemen Perdagangan,PT Karya Nusantara, yang mengalami kerugian selama beberapa tahun.Melamarlah Nadjikh di perusahaan itu dan diterima sebagai manajer produksi. Waktu itu usianya baru 24 tahun namun dia harus memimpin karyawan yang usianya di atas 50 dan 60 tahun. Nadjikh tertantang untuk membuat perusahaan itu sehat.

Dia pun melakukan perubahan signifikan untuk meningkatkan produksi.Tahun pertama perusahaan sudah meraih laba bahkan di tahun kedua perusahaan sudah untung empat kali lipat. Saat itu Nadjikh berani memberikan saran kepada sang bos untuk melakukan investasi.Di tahun kedua Nadjikh diangkat sebagai pimpinan cabang Surabaya.Karena usia yang masih sangat muda, sebagian besar karyawan yang berusia tua menunjukkan penolakan. Jalan tengahnya,perusahaan menempatkan dua pimpinan cabang di Surabaya.Nadjikh memegang posisi penyediaan bahan baku,pemasaran, produksi,dan teknik,sementara bagian keuangan dan personalia dipimpin koleganya yang sudah berumur.

Di perusahaan ini Nadjikh merasa dirinya tidak akan berkembang, apalagi dengan dualisme pimpinan semacam itu.Organisasi di BUMN itu pun mandek.Lalu Nadjikh mendapat tawaran dari perusahaan cold storagedi Surabaya, sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang pengolahan udang untuk ekspor. Di situ Nadjikh ditawari menjadi manajer pengembangan bisnis (business development manager) agar perusahaan itu tidak tergantung pada komoditi udang semata. Nadjikh pun langsung bekerja sesuai dengan tugas yang diamanatkan.

Dia melakukan diversifikasi produk yang tidak hanya terpaku pada komoditi udang tapi juga ikan lainnya. Ikan teri menjadi pilihan sang manajer sebagai terobosan.Selama dua tahun bekerja,perusahaan yang semula hanya memiliki satu pabrik,berkembang menjadi empat pabrik karena strategi yang dilakukan Nadjikh.Tapi,selama 4,5 tahun bekerja di perusahaan itu Nadjikh merasa apa yang sudah diberikannya tidak sesuai dengan yang diterimanya.

Akhirnya Nadjikh memutuskan keluar.Dari sanalah dia mulai memikirkan untuk menjalani bisnis sendiri,apalagi kalau bukan menjadi pengusaha ikan teri.Di usianya yang baru 30 tahun waktu itu,Nadjikh berpikir bahwa inilah saat yang tepat baginya memulai bisnis sendiri. Langkah awal yang dilakukan Nadjikh yaitu membeli sendiri ikan teri nasi ke nelayan.Satu, dua kilo,ikan teri dia beli,dicuci, dikeringkan,dipisahkan,dan disimpan.”Dalam satu setengah bulan akhirnya bisa terkumpul satu kontainer penuh ikan teri nasi,”ujarnya. Nadjikh pertama kali mendirikan pabrik di Tuban.

Tapi,jangan membayangkan pabriknya adalah bangunan megah.Bahkan,karena kondisi pabrik apa adanya,ada yang mengatakan bangunan pabrik itu mirip kandang kuda dari Irak.Cemoohan itu yang semakin memicu Nadjikh untuk terus berbisnis ikan teri. Dengan kerja keras,memasuki bulan keempat mulai ada titik terang. Usahanya mulai menuai untung. Keuntungan yang didapat dipergunakan untuk membayar utang,modal kerja,dan sebagainya.

Jadi Kakap

Kini perusahaan Nadjikh sudah berkembang pesat,benarbenar menjadi perusahaan kelas kakap.Hal itu terbukti dengan 38 pabrik dan 8 ribu karyawan yang tersebar di seluruh Indonesia.Perusahaan yang diberi nama PT Kelola Mina Laut (KML) Group ini tidak hanya memproduksi ikan teri nasi yang dikeringkan, dikemas,dan siap untuk dipasarkan di supermarket seluruh dunia.

Perusahaan ini sudah mengembangkan sayap ke komoditi lainnya seperti udang,rajungan, bahkan ikan kakap yang dibekukan.Tidak heran,dengan jumlah orang yang terlibat dan produk olahan yang tidak sedikit, omzetnya kini mencapai USD100 juta atau Rp 1 triliun per tahun. Ya,Nadjikh adalah contoh sukses ”manusia kelas teri”yang kini menjadi ”kakap”karena bisnis yang menggurita.

Apa yang dilalui Nadjikh setidaknya mengingatkan kita pada apa yang disebutkan Ace Greenberg,partner senior dan CEO Bear Stearns,bahwa kesuksesan sering kali diraih orang-orang bergelar PSDs (poor, smart,with a deep desire to become wealthy).Mereka adalah orangorang miskin tapi pintar dan terutama punya hasrat yang kuat untuk berhasil.Artinya, kesuksesan sejati itu bisa diraih siapa pun tanpa harus ada unsur genetis atau keturunan. (masdarul kh)    

Sumber : http://www.seputar-indonesia.com/