DRI IPB

Stingless Bee: Harapan Baru Perekonomian dan Pertanian Sehat Desa Sagarahiang, Kabupaten Kuningan

Berita / Warta LPPM

Stingless Bee: Harapan Baru Perekonomian dan Pertanian Sehat Desa Sagarahiang, Kabupaten Kuningan

Merujuk kepada kebijakan penataan ruang Kabupaten Kuningan 2011-2031 untuk menjadi Kabupaten Konservasi Berbasis Pertanian dan Pariwisata yang Berdaya Saing, dirasa penting untuk mengembangan nilai-nilai jasa lingkungan kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) sebagai jantung hutan konservasi di kabupaten ini. Kawasan konservasi sesuai UUD 1945, harus dapat memberikan kesejahteraan baik ekonomi, sosial dan lingkungan terutama kepada desa-desa penyangganya.

Sebagai wujud pengabdian IPB dalam meningkatkan produktifitas pertanian di Indonesia, KKNT-IPB 2019 di Desa Sagarahiang, Kecamatan Darma, Kuningan memandang Pengenalan Teknik Budidaya Stingless Bee (Lebah Tak Bersengat) dapat menjawab tantangan tersebut, mengingat: (1) stingless bee mudah dibudidayakan, mudah beradaptasi dan bersahabat dengan manusia (tak bersengat); (2) ketersediaan pakan lebah yang banyak; (3) ketersediaan bambu sebagai media budidaya cukup banyak; (4) polinator tanaman hortikultur bawang daun, cabe dan kubis (komoditi unggulan Desa Sagarahiang); (5) tingkat kesejahteraan masyarakat Desa Sagarahiang pada klasifikasi pra-sejahtera masih berada pada angka 33,20%; (6) program pertanian sehat yang dikembangkan oleh TNGC di desa-desa penyangganya.

[masterslider id=”360″]

Pengenalan teknik budidaya stingless bee telah dilaksanakan pada tanggal 13 Juli 2019,  bekerjasama dengan Pemerintahan Desa Sagarahiang dan Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (BTNGC), dengan 8 orang mahasiswa KKNT-IPB 2019 (7 mahasiswa Fahutan dan 1 mahasiswa Sekolah Bisnis) sebagai panitia di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan Dr. Ir. Arzyana Sunkar, MSc. Mahasiswa terlibat aktif dalam penyiapan stup dan acara. Peserta utama kegiatan ini adalah BumDes Saung Galah dan juga diikuti oleh forum ilmiah sebagai undangan yang terdiri dari perguruan tinggi setempat (UNIKU, UNISA), litbang (Badan Diklat LHK kadipaten) dan dinas kehutanan (CDK 8 Kuningan) serta warga Desa Sagarahiang lainnya dan desa tetangga.  Kegiatan pelatihan berdurasi 240 menit terbagi dalam materi di kelas dan praktik di lapangan. Materi pelatihan yang diberikan yaitu: (1) Pemberdayaan masyarakat desa penyangga melalui budidaya lebah (oleh Dr. Ir Arzyana Sunkar, MSc, selaku DPL); (2) Pembelajaran pengembangan bisnis lebah madu (oleh Bapak Dadan, Polhut TNGC); dan (3) materi kunci mengenai Teknik Budidaya Stingless Bee (oleh Septiantina Dyah Riendriasari S.Hut (Ririn), Karyasiswa Pusdiklat KemenLHK pada Program Studi Entomologi, Departemen Proteksi Tanaman IPB).

Target utama kegiatan ini adalah masyarakat Desa Sagarahiang dapat mempraktikkan ilmu budidaya lebah stingless yang tepat guna, sehingga tercipta peluang usaha yang bernilai ekonomi tinggi. Luaran kegiatan adalah meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat di sekitar TNGC dan terwujudnya peran TNGC sebagai Role Model dalam pengembangan pertanian sehat.  Kedua luaran ini merupakan suatu integrasi dari fungsi kawasan konservasi yang sesungguhnya. Pada akhir praktik pelatihan, narasumber kunci, Ibu Ririn, menyampaikan rasa optimisnya terhadap keberhasilan budidaya stingless bee di Desa Sagarahiang, melihat potensi pakan dan media budidaya yang cukup banyak tersedia di lingkungan desa. (ARZ)


Following the 2011-2031 Kuningan District Spatial Plan To Become A Competitive Agriculture and Tourism-Based Conservation District, it is necessary to develop the environmental service values ​​of the Gunung Ciremai National Park (TNGC) as the heart of the conservation forest in this district. Protected areas, in accordance with the 1945 Constitution, must be able to provide economic, social and environmental welfare, especially in the adjacent villages.

As a manifestation of IPB’s dedication in increasing agricultural productivities in Indonesia, and responding to the above challenge, the 2019 KKNT-IPB in Sagarahiang Village of Darma Subdistrict, Kuningan,  realised the importance to introduce stingless bee apiculture technique in the village, considering: (1) stingless bee is easily cultivated, easy adapt and friendly to humans; (2) availability of bee feeds; (3) availability of bamboo as a cultivation medium; (4) stingless bees are pollinators of onion, chilli and cabbage (superior commodities of Sagarahiang Village); (5) the community welfare level of the pre-prosperous classification is 33.20%; (6) healthy agriculture program developed by TNGC for the buffer zone villages.

Training on Stingless Bee Apiculture Technique was held on July 13th, 2019 in collaboration with the Sagarahiang Village Government and Gunung Ciremai National Park Office, organized by the village 2019 KKNT-IPB students (7 from Faculty of Forestry and 1 from Business School) under the supervision of the Field Adviser, Dr. Ir. Arzyana Sunkar, MSc. The students were also actively involved in preparing the beehives. The main trainees were members of Saung Galah, the Sagarahiang Village-owned Enterprise.  The activity was also attended by a scientific forum comprised of the local universities (UNIKU, UNISA), the Environment & Forestry Education and Training Centre, the Kuningan Forestry Service (CDK 8 Kuningan) as well as other Sagarahiang Village residents and few residents of neighbouring village. The 240-minute training was divided into classroom lecture and field practice. The training covered materials on: (1) Empowering buffer zone communities through apiculture (by Dr. Ir Arzyana Sunkar, MSc, as DPL); (2) Lessons-learned from honey bee business development (by Mr. Dadan, the national park forest ranger); and (3) main material on Stingless Bee Apiculture Technique (by Septiantina Dyah Riendriasari S.Hut or known as Ririn), a Master of Science candidate from the Ministry of Education and Training Centre, within the Entomology Study Program of Plant Protection Department, IPB University).

It is expected that the Sagarahiang villagers would be able to practice appropriate stingless bee apiculture, to create high economic business opportunities to increase the local income and welfare and to realise the role of TNGC as a Role Model in the development of healthy agriculture. The two outcomes are an integration of the actual function of a protected area. At the end of the training, Ms. Ririn, expressed her optimism about the success of stingless bee apiculture in Sagarahiang Village, considering the potential of feeds and cultivation medium which are widely available within the village environment. (ARZ)

[button text=”Unduh Berita” url=”http://dri.ipb.ac.id/wp-content/uploads/2019/07/Kab.Kuningan-IGTF2019.pdf” size=”middle” type=”colored” text_color=”#fff” mouseover_text_color=”#000″ bg_color=”#14b3e4″ bg_transparent=”0″ mouseover_bg_color=”” mouseover_bg_transparent=”1″ border_color=”” border_color_transparent=”1″ mouseover_border_color=”#000″ mouseover_border_color_transparent=”0″ sc_id=”sc501532076303″]