DRI IPB

Manusia Kanibal Selamat dari Penyakit

Warta IPTEK

Manusia Kanibal Selamat dari Penyakit

Manusia Kanibal Selamat dari Penyakit

(timesonline.com)

Ilmuwan mendapat jawaban atas selamatnya orang-orang dari wabah mematikan penyakit prion kuru. Penyakit itu diturunkan melalui ritual kanibalisme.

Kuru adalah epidemi yang berkembang dengan lambat di antara suku Fore di Papua New Guinea. Penyakit itu yang menghancurkan penduduk di abad ke-19 dan paruh pertama abad 20.

Korban menderita kondisi saraf yang semakin parah seiring berkembangnya penyakit. Wartawan menjulukinya “penyakit tertawa” karena disebabkan oleh ledakan tawa yang tidak termotivasi.

Kuru ditularkan melalui pesta kanibalisme, namun ketika ritual itu dilarang pada akhir 1950an epidemi itu hilang.

Baru di tahun 1982 penyebab dari penyakit tersebut ditemukan. Jenis protein khusus yang disebut prion, dan biasanya ada di dalam otak manusia dapat berubah menjadi bentuk patogenik yang sangat stabil.

Hal ini menyebabkan otak berubah massa seperti spons yang pada akhirnya membunuh korban. Sejauh ini, tidak ada obat untuk penyakit yang disebabkan oleh prion, termasuk penyakit langka Creutzfeldt-Jakob pada manusia dan BSE yang juga lebih dikenal sebagai “penyakit sapi gila”.

Sekelompok peneliti di Pusat Penelitian Prion Inggris di University College London telah menemukan bahwa suku Fore yang hidup bermutasi pada PRNP, gen yang menggambarkan prion.

Tim peneliti yang dipimpin oleh Simon Mead, melakukan penilaian genetik dan genealogic dari 3.000 orang yang berasal dari daerah yang terkena kuru. Termasuk lebih dari 700 peserta ritual kanibalisme, yang 152 diantaranya meninggal karena penyakit itu.

Diantara keturunan dan 51 orang yang selamat dari epidemi, tim peneliti telah menemukan varian dari bagian PRNP. Tak satu pun dari para korban memiliki mutasinya. Selain itu, garis keturunan dari pembawa mutasi penderita kuru, memiliki risiko kira-kira enam kali lebih kecil daripada orang-orang yang tanpa itu.

Temuan yang diterbitkan dalam The New England Journal of Medicine, Mead and Colleagues mengatakan bahwa mutasi adalah faktor resistensi penyakit prion, yang menjalani seleksi positif selama dekade epidemi.[ito]

Sumber :  http://www.inilah.com