Mangrove untuk Mencegah ”Silent Killer”
Mangrove untuk Mencegah ”Silent Killer”
|
|
|
|
| Amblesnya Jalan RE Martadinata, Jakarta Utara, sepanjang 103 meter, Kamis (16/9) dini hari lalu, menyentak kita semua. Maklumlah, Jalan RE Martadinata yang ambles itu bukan jalan biasa, tapi jalan yang amat vital bagi perekonomian Indonesia. Jalan itu menjadi salah satu jalur utama menuju Pelabuhan Tanjung Priok, pintu gerbang Indonesia dari laut yang sekaligus merupakan jantung perekonomian Indonesia.
Kenapa Ambles?
Sepintas memang tanda-tanda yang tampak mencurigakan sebelum amblesnya Jalan RE Martadinata tidak kelihatan. Jalan tersebut kelihatan baik-baik saja.Tak banyak orang menduga jalan tersebut menderita ”sakit kronis”.Baru setelah jalan itu ambles, orangorang mempersoalkan apa penyebabnya? Sejumlah pakar menyatakan jalan itu ambles karena konstruksi betonnya kurang kuat. Ada lagi yang berpendapat jalan itu ambles karena tiang pancangnya kurang dalam.Yang lain menyatakan karena beban jalan yang terlalu berat. Juga ada pergeseran tanah di lapisan bawah akibat pengerukan dan gempa bumi. Pendeknya berbagai macam pendapat muncul untuk mencari jawaban,kenapa tibatiba badan jalan tersebut ambles? Asumsi-asumsi di atas memang logis.Tapi, itu hanya sebagian dari permasalahan yang menyebabkan amblesnya jalan tersebut. Namun penyebab paling dominan amblesnya jalan tersebut adalah tingginya penyedotan air tanah, beratnya beban tanah di perkotaan, dan rapuhnya tanah di Jakarta itu sendiri. Untuk hal yang terakhir ini, pakar meteorologi dan geofisika ITB Armi Susandi menyatakan penyebab utama rapuhnya tanah di Jakarta adalah tingginya kadar garam pada air tanah akibat intrusi (perembesan air laut ke daratan). Terjadinya intrusi ini dipicu penyedotan air tanah secara besarbesaran. Secara kimiawi, air berkadar garam tinggi mempunyai sifat yang merusak tanah dan bebatuan.Akibatnya, tanah dan batuan pun keropos dan tidak sanggup menahan beban berat di atasnya. Menurut Armi, wilayah-wilayah yang keropos itu meliputi pelabuhan,bandar udara, permukiman padat, dan gedung-gedung bertingkat. Ini karena penyedotan air tanah di wilayah-wilayah tersebut besar sekali. Saat ini, intrusi air laut ke daratan Jakarta makin lama makin besar, berbanding lurus dengan banyaknya air tanah yang disedot oleh perkantoran, hotel, apartemen, perumahan, dan lain-lain. Akibat penyedotan air tanah yang berlebihan ini, permukaan tanah turun dan intrusi makin besar. Dampaknya di kemudian hari: jembatan dan gedung-gedung permanen bisa ambles dan amblesnya Jalan RE Martadinata adalah salah satu contoh.Jika kita memperhatikan asal-muasal amblesnya Jalan RE Martadinata tersebut, besar kemungkinan jalan-jalan lain di wilayah Jakarta Utara khususnya dan di Jakarta umumnya akan mengalami nasib serupa.Apalagi jika mengingat intrusi air laut ini sudah mencapai Kelapa Gading, Monas, dan Jalan Jenderal Sudirman. Menurut catatan Institut Hijau Indonesia, hampir 50% wilayah Jakarta rawan ambles. Hal ini bisa dilihat dari laju amblesan tanah (subsiden) di Jakarta yang terus meningkat. Jika di tahun 1982–1992 penurunan tanah 0,8 cm per tahun, di tahun 2008–2009,penurunan itu mencapai 18–26 cm per tahun. Jakarta Utara, Kota, dan Kelapa Gading adalah wilayah-wilayah yang tingkat penurunan tanahnya paling tinggi. Dengan melihat tingkat penurunan tanah tersebut, ada pakar yang memprediksi, Jakarta akan tertelan bumi pada tahun 2050. Itulah sebabnya, penurunan tanah yang sehari-hari tidak terasa tersebut merupakan silent killerdi masa depan. Solusi Mangrove Banyak cara untuk mengatasi amblesnya tanah dan intrusi di Jakarta tersebut. Di antaranya membuat dinding di tepi pantai (sea wall), reklamasi pantai, dan membuat penghalang (barrier) untuk memecah serta meredam ombak. Namun, semua itu, sifatnya hanya sementara. Lagipula, solusi tersebut tidak berlangsung selamanya karena ”produk rekayasa teknologi” itu akan rusak termakan usia. Karena itu perlu dicari solusi lain yang sustainable dan ecofriendly sehingga tahan terhadap usia dan dinamika lautan yang acap tidak bersahabat dengan manusia. Salah satu solusi terbaik yang memenuhi asas sustainabilitas dan ecofirendly adalah mangrovisasi di lahan-lahan pantai Jakarta tersebut. Solusi ini kelihatannya sederhana, tapi bila dilakukan dampaknya akan luar biasa. Kenapa? Karena mangrove (bakau) adalah tumbuhan yang ”tercipta” di alam untuk mengatasi problem intrusi dan gelombang air laut. H u t a n m a n g r o v e merupakan salah satu ekosistem di wilayah pesisir yang memiliki kekhasan,baik dari bentuk batang, tajuk maupun sistem perakarannya. Hutan mangrove ini tumbuh dengan baik pada pantai berlumpur yang terpengaruh pasang surut air laut dan kadar garam. Vegetasi ini sangat berperan sebagai pelindung alami wilayah pesisir. Ini terjadi karena sistem perakaran mangrove yang mampu menstabilkan lumpur pantai,menyerap berbagai polutan dan menahan penyusupan air laut (intrusi) ke arah daratan. Kerapatan batang dan tajuknya juga mampu menahan dan mematahkan kekuatan angin laut. Melihat “morfologi Jakarta” yang berbatasan dengan pantai, kota metropolitan ini secara niscaya seharusnya mendapat perlindungan hutan mangrove. Disebut secara niscaya karena sebetulnya hutan mangrove sejak lama sudah akrab dengan pantai Jakarta. Bahkan di abad ke-18, hutan mangrove benar-benar menjadi bagian paling menonjol dari pantai Jakarta. Bintaro dan Warakas, misalnya, sebetulnya merupakan nama spesies dari mangrove. Tampaknya, saat itu, zonasi hutan mangrove di pantai Jakarta amat luas dan jauh menjorok ke darat sehingga dua daerah yang letaknya cukup jauh dari pantai,Bintaro dan Warakas, dinamai dengan spesies mangrove tersebut. Vegetasi mangrove memang memperlihatkan adanya pola zonasi.Menurut Chapman, zonasi tersebut erat kaitannya dengan tipe hutan (lumpur,pasir atau gambut), keterbukaan (terhadap empasan gelombang), salinitas, serta pengaruh pasang surut. Sebagian besar jenis-jenis mangrove tumbuh dengan baik pada tanah atau substrat berlumpur. Pada kondisi tertentu, mangrove dapat juga tumbuh pada daerah pantai bergambut, misalnya di utara Teluk Bone dan di sepanjang Larian-Lumu, Sulawesi Selatan, di mana mangrove tumbuh pada gambut dalam—lebih dari 3 meter— yang bercampur dengan lapisan pasir dangkal (0,5 m). Substrat mangrove berupa tanah dengan kandungan bahan organik yang tinggi (62%) juga dilaporkan ditemukan di Kepulauan Seribu,Teluk Jakarta (Hardjowigeno,1989). Lebar zonasi mangrove berkisar beberapa meter sampai puluhan kilometer (km). Pada beberapa estuari serta teluk yang dangkal dan tertutup, lebar zonasi mangrove dapat mencapai l8 km seperti di Sungai Sembilang,Sumatera Selatan atau bahkan lebih dari 30 km seperti diTeluk Bintuni,Papua. Besar zonasi mangrove ideal di Jakarta yang dibutuhkan agar intrusi air laut dan pencemaran pantai dapat teratasi secara alamiah bisa dihitung. Dengan proyek mangrovisasi di Jakarta yang terencana dan terukur, kerusakan tanah akibat intrusi air laut bisa diatasi.Tentu saja, proyek mangrovisasi ini harus pula dibarengi dengan pencegahan pengambilan air tanah berlebihan dan perluasan zona-zona hijau di darat yang berfungsi sebagai lahan penyerap air hujan. Untuk mencegah meluapnya air dari 13 sungai yang ada di Jakarta, pemda pun perlu merevitalisasi situ-situ atau rawa-rawa yang kini tidak berfungsi atau rata dengan tanah.Ini penting untuk mendukung pencegahan intrusi dan berkurangnya air tanah. Jika itu dilakukan dengan terencana dan terkonsep, Jakarta akan kembali menjadi kota ideal, yaitu kota yang permukaan tanahnya kuat, tidak keropos karena intrusi, pantainya banyak ikan karena hutan mangrovenya lebat, masyarakat terlindungi dari rob dan gejolak gelombang laut yang besar, dan last but not least, udara Jakarta sejuk karena mangrove mempunyai daya konversi (mengubah gas karbon dioksida menjadi gas oksigen) dua kali lipat dari pohon biasa.(*) Prof Hadi S Alikodra Sumber : http://www.seputar-indonesia.com |
