Mang Unus
Mang Unus

Mang Unus
Ronny Rachman Noor *)
Seperti kebanyakan kaum marjinal di Republik ini, Mas Unus adalah sosok yang sangat sederhana yang jarang diperhatikan orang, prinsip perjuangan hidupnya hanya satu, bagaimana caranya agar dapat bertahan memberikan nafkah kepada keluarganya yang cukup besar. Perawakannya kecil, dengan umurnya yang sudah mencapai 60 tahun lebih, sosok Mang Unus merupakan sosok yang sangat mengagumkan. Pakaian yang digunakan jauh dari istilah layak pakai. Pakaian kerjanya penuh dengan lobang dan tambalan yang sudah lapuk termakan usia.
Mang Unus tidak memiliki perkerjaan tetap. Dalam kesehariannya, beliau berkeliling menawarkan jasanya membersihkan rumput dan gulma di halaman rumah di komplek perumahan serta membersihkan selokan yang kotor. Terkadang pekerjaannya disambi dengan memangkas pohon dan semak yang telah tinggi atau meranggas. Biasanya beliau berkeling dengan sepeda mininya yang sudah reyot. Di boncengan sepeda tersebut terdapat arit, golok, kerukan yang semuanya juga sudah tua dan berkarat, serta tentunya tak lupa sepotong kecil batu asahan yang digunakannya jika peralatannya sudah mulai tumpul. Semua peralatan ini dibungkus dengan selembar karung plastik bekas karung beras. Karung ini sekaligus berfungsi sebagai pengeruk dan pengangkut kotoran di selokan.
Di dalam tubuh yang yang sangat sederhana ini tersimpan kepribadian yang mengagumkan. Tidak pernah sekalipun terucap dari mulutnya kata meminta. Kalaupun terucap, kata yang keluar adalah menanyakan apakah ada pekerjaan yang bisa dikerjakan oleh beliau. Mang Unus sosok pekerja yang sangat keras, walaupun tubuhnya sudah mulai renta. Jika mendapatkan pekerjaan beliau memulainya dari pagi hari dan menyelesaikannnya sampai sore hari. Dengan sigap beliau masuk ke selokan yang kotor dan bau untuk membersihkannya. Semua pekerjaannya selalu diselesaikan dengan sepenuh hati dan rapi. Di tengah waktu kerjanya, beliau selalu menghentikan kerjanya menjelang waktu zuhur dan membersihkan dirinya serta mengganti pakaiannya dengan pakaian dan sarung sangat sederhana tapi bersih untuk menunaikan kewajiban ibadahnya. Setelah itu biasanya beliau pulang sebentar ke rumahnya untuk menyantap menu makan siang seadanya. Dengan anak lima dan cucu, kehidupannya masih sangat jauh dari garis kehidupkan sejahtera, batas marjinalpun tampaknya masih belum terpenuhi.
Salah satu prinsip hidup Mang Unus yang paling menonjol adalah beliau sangat enggan untuk menerima bantuan tanpa beliau harus bekerja sebelumnya. Sehingga terkadang beliau tidak mau diajak makan siang di rumah yang memberikan pekerjaannya. Tentang upah yang diberikan, beliau tidak pernah memintanya. Berapapun yang diberikan, selalu terucap kata syukur kepada Allah SWT dan diiringi dengan doa bagi yang memberi pekerjaan. Terkakang pemberi jasa menambah upahnya dengan bantuan natura seperti sabun, gula dan mie instan dll.
Pernah suatu waktu, beliau menyampaikan niat untuk meminjam uang sebanyak 1 juta rupiah untuk memberikan modal untuk menjual gorengan kepada salah satu anak beliau yang baru saja ditimpa musibah. Suaminya meninggal karena kecelakaan lalu lintas terbentur tiang listrik pada saat menumpang angkot dan mengeluarkan kepalanya. Kematian menantunya tersebut meninggalkan bayi yang masih kecil.
Selang beberapa bulan kemudian, beliau mengetuk pintu dan menyatakan niatnya untuk membayar kembali utangnya. Ditangan beliau ada tumpukan uang ribuan lusuh yang jumlahnya sebesar utang beliau. Terenyuh sekali hati ini jika membayangkan bagaimana beliau setiap harinya mengumpulkan seribu demi seribu dari uang yang didapatnya untuk membayar utangnya. Bagi beliau utang adalah kewajiban yang harus dilunasi.
Mang Unus adalah sosok pejuang bagi keluarga dan agamanya. Kegigihan beliau menghadapi kerasnya hidup ini sangat luar biasa. Definisi sabar dan bersyukur serta amanah menjelma dalam diri Mang Unus. Di tengah himpitan ekonomi yang sangat menyesakkan, beliau tidak pernah meninggalkan kewajiban seperti yang diperintahkan oleh penciptaNya.
Pemandangan yang sangat kontras dipertontonkan oleh beberapa anak kecil yang berkeliling komplek perumahan. Dengan bermodalkan botol yang diisi pasir, dengan suara yang tidak jelas nadanya dan hanya tidak kurang dari semenit mengamen, mereka meminta uang. Pola pikir dan cara mencari uang dengan mudah seperti ini sangat jauh dari gambaran sosok Mang Unus.
Seharusnya sosok Mang Unus ini dijadikan model dalam menterjemahkan agama dan etika dalam kehidupan sehari hari terutama bagi generasi penerus bangsa ini. Jika dipandang dari segi materi, sangat sulit membayangkan kebahagian tergambar dalam kehidupan Mang Unus, akan tetapi dengan prinsip hidup seperti itu, saya dapat membayangkan jauh di dalam lubuk hati dan kalbu Mas Unus ada suatu kebahagiaan yang hakiki yang menjadi modal utama beliau dalam menyongsong kehidupan yang telah dijanjikan oleh Allah SWT.
Biasanya setiap hari lebaran, Mang Unus selalu berkunjung ke rumah untuk bermaafan. Tahun ini beliau tidak berkunjung ke rumah, semoga saja Allah SWT memberikan kesehatan dan kemudahan bagi beliau untuk menjalani hidup ini. Selamat Iedul Fitri, mohon maaf lahir batin. Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa dan kehilafan kita…amien.
*) Wakil kepala LPPM IPB Bidang Penelitian