LPPM adakan Seminar Nasional Hasil PPM IPB Tahun 2019 “Percepatan Hilirisasi Hasil Penelitian di Era Industri 4.0”
LPPM adakan Seminar Nasional Hasil PPM IPB Tahun 2019 “Percepatan Hilirisasi Hasil Penelitian di Era Industri 4.0”
Pertanian modern Indonesia kini dan ke depanperlu didukung oleh aplikasi digital sehingga proses produksi berlangsung secara efisien, tepat sasaran, tepat guna, dan berdaya saing, serta ramah lingkungan. Ini dapat dicapai melalui peningkatan kualitas SDM yang unggul, ketersediaan sarana dan prasarana pertanian, teknologi mekanisasi, instrumentasi dan teknologi digital, serta infrastruktur pendukung yang memadai.
Minimal empat pihak harus berkomitmen dalam mewujudkan pertanian modern tersebut, yaitu (i) petani sebagai subyek pertanian, (ii) pelaku usaha sebagai mitra petani, (iii) pemerintah sebagai regulator dan dinamisator, dan (iv) perguruan tinggi sebagai sumber inovasi. Kerjasama yang harmonis stakeholder tersebut dengan profesionalitas masing-masing dalam rangka berkontribusi pada pencapaian faktor sukses modernisasi pertanian. Dari sisi petani, pertanian modern harus dapat mengangkat derajat lebih tinggi untuk meningkatkan kesejahteraannya. Bagi pelaku usaha, insentif dan kemudahan investasi dari pemerintah sangat dibutuhkan dalam rangka meningkatkan daya saing. Pemerintah menjamin konsistensi adanya sinergi dan kolaborasi antara pelaku usaha dan petani. Perguruan tinggi secara terus menerus menghasilkan ‘inovasi baru’ yang sesuai dengan kebutuhan dalam pertanian modern.
Pertanian modern tidak sekedar mentransformasi kemampuan teknis seperti penggunaan mekanisasi, pemanfaatan internet untuk mendukung aktivitas bertani dan digitalisasi, tetapi juga menyangkut perubahan mindset atau pola berpikir semua stakeholder. Dengan demikian pembangunan karakter SDM pertanian modern juga membutuhkan kemampuan dalam mewujudkan “data-based decission making” sehingga petani dituntut memiliki karakter bermotivasi tinggi, kreatif, inovatif dan cepat tanggap bahkan mampu mengembangkan inovasi dan invensi yang sesuai dengan kebutuhan setempat. Dalam konteks ini, pembangunan SDM pertanian yang adaptif teknologi tinggi membutuhkan peran pihak terkait serta kalangan akademis secara lintas disiplin, dukungan kelembagaan, dukungan kebijakan dan juga dukungan pelaku bisnis sehingga proses penguatan dan percepatan implementasinya dapat terjadi secara berkesinambungan. Fokus pada SDM adalah bagaimana konten dan delivery dari aspek-aspek “Pertanian Teknologi Tinggi” dapat dikuasai.
[masterslider id=”419″]
Upaya Kementerian Pertanian dalam melakukan modernisasi juga sudah memiliki arah yang jelas dengan telah dimulainya mekanisasi sejak pengolahan tanah, penanaman, panen hingga bantuan mesin-mesin pengering padi yang menjangkau hampir semua petani di Indonesia. Kementrian Pertanian juga tetap mempertahankan bantuan benih dan pupuk kepada petani yang membutuhkan sehingga mereka tetap mampu berusaha, disamping bantuan lain seperti pendampingan, bantuan asuransi, dan sebagainya.
IPB melalui konsep ‘Agro-maritim 4.0’ berkeinginan kuat untuk mendorong modernisasi pertanian dengan tetap menempatkan petani sebagai sentral pembangunan pertanian, dan mendorong peningkatan produk yang berdaya saing. Temuan best practise yang ada, membutuhkan dukungan pemerintah dan juga pengusaha sehingga spin off dapat terjadi dalam rangka memperluas dampak kepada petani yang lebih besar.
Untuk mewujudkan komitmen tersebut, LPPM IPB telah menyusun konsep pengembangan penelitian agromaritim 4.0 dan telah diimplementasikan dalam sebuah skema penelitian “Penelitian Institusi – Agromaritim4.0 (PI-AMar4.0)”. Penelitian dengan skema ini sedang dan akan diimplementasikan dibeberapa daerah di Indonesia, antara lain 1) Kabupaten Cirebon sebagai upaya menekan angka stunting, 2) Kabupaten Bojonegoro dan Musi Banyuasin mengenai Sekolah Peternakan Rakyat Unggul dan Modern, 3) Kabupaten Purbalingga mengenai Komunitas Estate Padi Modern dan Unggul, 4) Kep. Seribu untuk mewujudkan marine culture, 5) Pulau Tinjil mengenai biomedis, 6) Kabupaten Kampar mengenai Kelapa Sawit Rakyat, 7) Taman Nasional Gunung Leuser mengenai konservasi biodiversitas, dan 8) Kabupaten Bogor mengenai domba rakyat.
Seminar dengan tema “Percepatan Hilirisasi Hasil Penelitian di Era Industri 4.0” tahun 2019 ini, menyajikan sebanyak 373 judul hasil PPM IPB dan 29 judul hasil PPM non IPB dalam bentuk presentasi oral maupun poster. Judul-judulPPM tersebut dikelompokkan dalam 6 kelompok bidang ilmu, yaitu 1) Bidang Pangan, 2) Bidang Energi, 3) Bidang Sumberdaya Alam dan Lingkungan, 4) Bidang Biologi dan Kesehatan, 5) Bidang Sosial, Ekonomi dan Humaniora, 6) Bidang Teknologi dan Rekayasa serta kelompok PMDSU-PTM-PDD dan kelompok LPDP-BPDPKS. Selain digunakan sebagai ajang diseminasi hasil penelitian ke stakholders pertanian, penyajian hasil penelitian ini juga digunakan sebagai pemilihan topik penelitian yang dapat diarahkan ke skema Penelitian Instansi Agro-Amar4.0
Bersamaan dengan seminar tersebut, diselenggarakan kegiatan talkshow bertajuk “Pembangunan Pertanian Modern di Era Industri 4.0” yang menghadirkan perwakilan pemerintah, akademisi, dan praktisi. Pemerintah diwakili oleh Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian RI (Dr. Suwandi), akademisi oleh Guru Besar Fateta IPB sekaligus Pakar Agromaritim IPB (Prof. Dr Kudang Boro Seminar (Guru Besar Fateta IPB dan Pakar Agromaritim IPB), dan praktisi diwakili oleh Mardani H Maming sebagai pengusaha dan Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia/HIPMI. Diskusi dipandu langsung oleh Guru Besar Fakultas Pertanian IPB, Prof. Dr. Ir. Memen Surahman, M.Sc. Agr.Tujuan talkshow adalah untuk:
- menggali konsepsi strategis dan rencana aksi tentang pemberdayaan petani menuju pertanian modern,
- tukar pengalaman lapangan terkait kesiapan SDM, sarana dan prasarana, pasar dan pembiayaan dalam implementasi pertanian modern,
- mendiskusikan rencana kebijakan pemerintah terkait dengan percepatan implementasi pertanian modern dari sisi alokasi sumberdaya dan pembagian peran pusat dan daerah,
- menajamkan peran perguruan tinggi dalam percepatan implementasi pertanian modern.
Beberapa topik bahasan yang didiskusikan narasumber dalam talkshow sebagai berikut;
- Peningkatan kualitas SDM dan faktor kunci penguatannya;
- Model implementasi pertanian modern yang berdaya saing;
- Dukungan kebijakan/regulasi/pembagian peran dan tanggungjawab antar stakeholder;
- Intervensi dan stimulus yang diperlukan agar stakeholder pangan seperti swasta, BUMN, dan pelaku pasar dapat terlibat secara aktif;
- Peran pengusaha yang diharapkan;
- Membangun harmoni kemajuan teknologi dengan upaya mengatasi persoalan pertanian; yang klasik seperti persoalan lahan, pembiayaan, dan kemiskinan;
- Prioritas pembangunan subsistem yang memiliki daya ungkit besar;
Talksow ini diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi penting terhadap percepatan pembangunan pertanian di era Industri 4.0 terkait konseo berbagi peran dan tanggungjawab antara Perguruan Tinggi, Pengusaha (Swasta), Pemerintah, dan Petani dalam upaya implementasi di lapangan.
[button text=”Unduh Berita” url=”http://dri.ipb.ac.id/wp-content/uploads/2019/12/LPPM-adakan-Seminar-Nasional-Hasil-PPM-IPB-Tahun-2019-“Percepatan-Hilirisasi-Hasil-Penelitian-di-Era-Industri-4.0”.pdf” size=”middle” type=”colored” text_color=”#fff” mouseover_text_color=”#000″ bg_color=”#14b3e4″ bg_transparent=”0″ mouseover_bg_color=”” mouseover_bg_transparent=”1″ border_color=”” border_color_transparent=”1″ mouseover_border_color=”#000″ mouseover_border_color_transparent=”0″ sc_id=”sc656312955568″]