Kambing Hutan Muncul di Lokasi Longsor
Kambing Hutan Muncul di Lokasi Longsor
Kambing Hutan Muncul di Lokasi Longsor

Warga sekitar perbukitan “W” dekat Danau Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, beberapa kali melihat kemunculan kambing hutan Sumatera (Capricornis Sumatraensis), yang merupakan satwa langka dan dilindungi.
“Kambing hutan yang sudah sangat jarang ditemukan di Hutan Maninjau itu justru terlihat oleh warga pada siang hari, saat pergi ke Jorong (kampung) Galapuang untuk mengambil barang tersisa dari puing-puing rumah mereka yang rusak akibat gempa dan tertimbun tanah longsor,” kata Sabri, 40 tahun, warga Jorong di Galapuang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, Selasa (27/10).
Kambing hutan Sumatera itu tampak memasuki perkampungan warga yang kosong ditinggal mengungsi. Warga melihat kambing hutan berwarna hitam itu dari kejauhan. Warga, yang tengah menengok rumahnya yang rusak, tak mau mengganggu kambing-kambing itu.
Jejak kambing hutan juga nampak di permukiman warga, yang kini telah sunyi ditinggal mengungsi penduduk Jorong yang masih khawatir terjadinya gempa dan longsor susulan.
Galapuang adalah satu dari empat jorong di selingkar Danau Maninjau yang paling parah dilanda tanah longsor dari perbukitan berbentuk huruf “W” yang terjadi sehari setelah gempa 7,9 SR akhir September 2009.
Kini empat jorong tersebut telah ditinggal penghuninya yang pergi mengungsi ke Jorong tetangga tempat didirikannya posko pengungsi oleh pemerintah dan beberapa LSM.
Menurut Sabri, hutan lebat di perbukitan leter W yang telah longsor, sebelumnya dikenal masyarakat sebagai sarang hewan liar dan buas termasuk harimau Sumatera.
“Mungkin kabitat kambing Sumatera di hutan bukit leter W ikut rusak dilanda longsor, sehingga binatang itu mencari tempat baru yang lebih aman dan melintas perkampungan yang telah ditinggal warga,” katanya.
Kambing hutan Sumatera berbeda dengan kambing yang diternakkan, dan fisiknya merupakan perpaduan antara kambing dengan antelop serta mempunyai hubungan dekat dengan kerbau.
Kambing hutan sangat tangkas mampu memanjat dengan cepat lereng terjal yang hanya bisa dicapai manusia dengan bantuan tali.
Kabupaten Agam, merupakan daerah terparah ke tiga di Sumbar yang terkena gempa 7,9 Sr diikuti tanah longsor yang terjadi, Rabu 30 September 2009.
Akibat bencana ini, sebanyak 80 warga Agam meninggal dunia, 90 orang luka berat dan 47 orang luka ringan. Bencana tersebut juga menyebabkan 12.634 unit rumah warga rusak berat, 3.653 unit rusak sedang dan 2.862 unit rusak ringan.
Kerugian materi akibat gempa dan tanah longsor di Agam ditaksir mencapai Rp460 miliar. [TMA, Ant]
Sumber : http://www.gatra.com