DRI IPB

IPB Harus Utamakan Inovasi dan Entrepreneur

Warta LPPM

IPB Harus Utamakan Inovasi dan Entrepreneur

 

IPB Harus Utamakan Inovasi dan Entrepreneur

 
 

ORASI ILMIAH: Chairul Tanjung memaparkan strategi yang harus ditempuh untuk meningkatkan jatidiri bangsa dan ketahanan pangan.
BOGOR – Visi Indonesia pada 2030 yakni menempatkan nusantara sebagai negara maju yang unggul dalam pengelolaan kekayaan  alam. Terdapat dua kata kunci pada visi tersebut, yaitu “negara maju” dan “unggul dalam pengelolaan kekayaan alam”.

Hal tersebut disampaikan drg Chairul Tanjung, dalam orasi ilmiahnya sebagai pembicara  tamu Dies Natalies ke-47 IPB,  Selasa (5/10).

Ketua Komite Ekonomi Nasional (KEN) itu memaparkan  visinya tentang bagaimana merealisasikan visi Indonesia 2030 melalui peningkatan jatidiri bangsa dan ketahanan pangan. “Negara maju terlihat dari penduduk  yang berkarakteristik modern, ber-income tinggi dan merata,” ujarnya.

Nantinya, lanjut dia, Indonesia sebagai negara maju ditandai dengan tingginya pendapatan per kapita dan ukuran perekonomian yang signifikan di antara negara-negara di dunia.

Menurut dia, dengan pendapatan per kapita sekitar USD18 ribu, Indonesia yang pada 2030 akan berpenduduk  286,1 juta jiwa akan masuk lima besar perekonomian dunia. “Itu merepresentasikan kata kunci negara maju,” tandasnya. Ia menjelaskan, untuk menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang merata, perlu adanya pengelolaan kekayaan alam secara optimal melalui interaksi antara sumber daya manusia (SDM) dan teknologi. Menurut dia, hal itu perlu  menganut prinsip keberlanjutan.

“Kakayaan alam kita mengacu pada tiga elemen. Letak geografis, keindahan alam dan budaya serta sumber daya alam sebagai faktor produksi,” terangnya.

Pada acara yang bertempat di Auditorium Andi Hakim Nasoetion IPB itu, Chairul mengatakan, letak geografis Indonesia sangat menguntungkan. Kandungan mineral, penghasil emas terbesar di dunia, juga penghasil karet dan  sawit nomor satu di dunia. “Kita gak jauh-jauh dari nomor satu,  dua dan tiga. Pasti ada di sepuluh besar,” sahutnya. Chairul menambahkan, keindahan budaya dan alam Indonesia tak kalah  hebatnya. Namun menurut dia, kita kalah dalam pengelolaannya.

“Tapi tetap kita harus environment friendly,” imbuhnya. Di depan Bupati Bogor Rachmat Yasin, Rektor IPB Prof Herry  Suhardiyanto dan segenap tamu undangan, Chairul mengatakan, perkembangan ekonomi akan mengarah kepada less goverment atau lebih sedikit campur tangan pemerintah. Menurut dia, sektor industri kreatif akan bermunculan. Itu merupakan dampak dari globalisasi dan kemajuan teknologi.

“Untuk itu saya dukung IPB yang mengutamakan inovasi dan entrepreneur,” ujarnya.

Sementara itu, Rektor IPB Herry Suhardiyanto mengatakan, IPB telah mendapatkan rekomendasi dari Presiden RI untuk menjadi pelopor dan yang terdepan dalam ketahanan pangan. Untuk itu, lanjut dia, dengan masih adanya krisis pangan dan energi-tidak saja di Indonesia tapi juga di dunia-, maka sudah saatnya diperlukan perspektif baru pembangunan yang lebih berkeadilan, berkedaulatan dan berkelanjutan. Menurut Prof Herry, presiden juga mengungkapkan pentingnya pertumbuhan dengan pemerataan (growth with equity).

Untuk itu, lanjut dia, IPB sebagai wakil ketua Komite Inovasi Nasional (Kin), harus bersinergi dengan Komite Ekonomi Nasional (Ken) sebagai sepasang  komite yang saling melengkapi dalam memberikan policy recommendationuntuk memperkuat perekonomian.

“Ken dan Kin harus berjalan seiring dan sejalan dalam memberikan rekomendasi kebijakan pada pemerintah,” ujar Prof  Herry. (cr12)

 

Sumber : http://www.radar-bogor.co.id