DRI IPB

Inflasi September Diperkirakan 0,6%

ipb
Warta LPPM

Inflasi September Diperkirakan 0,6%

 ipb

Inflasi September Diperkirakan 0,6%



JAKARTA (SINDO) – Bank Indonesia (BI) memprediksi laju inflasi September akan berada di kisaran 0,5–0,6%. Rendahnya inflasi karena diiringi oleh adanya penurunan harga sejumlah komoditas.

“Inflasi month to month tidak begitu tinggi.Ada beberapa penyebabnya karena beberapa komoditas bumbu-bumbu itu sudah mulai turun walaupun tidak serendah sebelum waktu dia naik,”kata Gubernur BI Darmin Nasution di Jakarta, kemarin. Selain itu, lanjut Darmin, penyebab rendahnya inflasi karena aktivitas masyarakat yang juga mulai turun. Bahkan, kata dia, hal ini menyebabkan naiknya dana pihak ketiga. “Habis lebaran aktivitas mulai turun, likuiditas mulai masuk kembali. Dana pihak ketiga naik,”paparnya. Darmin mengakui, ada beberapa harga komoditas yang masih mengalami kenaikan,seperti beras, daging sapi, dan daging ayam.

Namun, untuk harga daging sapi maupun ayam, dia memperkirakan segera turun sekitar satu atau dua pekan lagi.Adapun harga beras internasional masih tinggi,tapi tidak memengaruhi harga di dalam negeri. “Kalau harga beras memang harga internasional juga belum turun. Walaupun sebetulnya harga beras di Indonesia memang enggak terlalu pengaruh.Karena harga kita sudah lebih tinggi dari harga internasional. Yang paling penting diketahui itu adalah suplainya cukup, itu saja,”ujarnya. Menurut dia, faktor-faktor tersebut dapat memengaruhi inflasi hingga akhir tahun. “Apakah inflasinya akan menurun lagi dari bulan ini atau lebih kurang sama.

Itu akan menentukan sampai akhir tahun dan nanti, inflasi akan seperti apagambarannya.Apakahakantembus 6% atau sekitar 6%,”katanya. Sementara itu, ekonom senior Bank Dunia Enrique Blanco mengatakan, inflasi Indonesia pada tahun 2010 akan mencapai 6,4% lebih tinggi dari target dalam APBN sebesar 5,3%.Tingginya inflasi terutama didorong oleh inflasi impor (imported inflation).Sementara pada tahun 2011,inflasi bisa menyentuh angka 6,4%. “Tahun depan diperkirakan terjadi beberapa peningkatan inflasi impor, dengan meningkatnya ramalan bagi mitra-mitra dagang utama Indonesia.

Ini bersama dengan ramalan investasi dan pertumbuhan kredit yang lebih baik. Inflasi akan mengalami penyesuaian pada tingkat inflasi headline mencapai 6,4%,”bebernya. Enrique mengatakan,inflasi didorong pinjaman baru dan penguatan nilai mata uang yang mendorong permintaan dalam negeri. Di sisi lain, penyesuaian harga energi menuju harga keekonomian terus berlanjut. Direktur Inter-CAFE IPB Iman Sugema mengatakan, laju inflasi sepanjang tahun 2005–2010 lebih didominasi oleh produk makanan (food inflation). Artinya, kata dia, masyarakat miskin yang jumlahnya sekitar 60 juta orang yang paling terkena dampak inflasi.

“Bobot dalam inflasi lebih mencerminkan masyarakat kelas bawah. Jadi,kalau bicara inflasi Indonesia, hanya mencerminkan kirakira 20% masyarakat kota teratas. Sedangkan sisanya,bobotnya jauh berbeda dengan bobot inflasi.Oleh karena itu angka inflasi harus diinterpretasikan secara hati-hati. Perlu ada IHK (indeks harga konsumen) untuk masyarakat miskin dan IHK nasional,”ujar Iman. Iman menilai inflasi bahan pangan 2011 akan sedikit terganggu, karena harga beras Indonesia sudah lebih tinggi dari Vietnam.

“Tetapi dalam pengendalian harga, justru saat ini peran Perum Bulog semakin lemah. Masalahnya karena dana stok Bulog sedikit untuk mengendalikan harga,”katanya. (didik purwanto/ wisnoe moerti)

 
Sumber :  http://www.seputar-indonesia.com