DRI IPB

Daging Sapi Pencegah Kekurangan Mikronutrisi

ipb
Warta IPTEK

Daging Sapi Pencegah Kekurangan Mikronutrisi

ipb

Daging Sapi Pencegah Kekurangan Mikronutrisi



MASALAH gizi tidak hanya dialami oleh masyarakat dengan status pendapatan yang rendah saja, tetapi banyak juga masyarakat dengan pendapatan menengah ke atas yang masih alami masalah gizi. Hal itu bisa disebabkan minimnya pengetahuan seperti apa gizi seimbang yang seharusnya didapat oleh setiap orang. Salah satu masalah gizi seimbang yang cukup sering terjadi, di antaranya mikronutrisi.

Mikronutrisi adalah kebutuhan nutrisi tubuh kita yang tidak secara langsung kita rasakan akibatnya. Disebutkan oleh ahli gizi dari Badan Konsultasi Gizi Institut Pertanian Bogor (IPB),Sarah Fauzia S P SGz,data di Indonesia menunjukkan bahwa dari 11 zat gizi mikro,hanya vitamin C yang sudah terpenuhi kecukupannya, sedangkan 10 lainnya belum terpenuhi,di antaranya zat besi.

Sedangkan data global WHO (2000) menunjukkan, penduduk dunia yang kekurangan gizi mikro berjumlah hampir 3 miliar,di mana penduduk yang mengalami kekurangan zat besi karena anemia adalah sebanyak 2 miliar dan kebanyakan yang menderita adalah balita. Data lain dari badan kesehatan dunia,WHO menyebutkan, setiap 1 dari 3 orang di negara berkembang menderita kurang vitamin dan mineral. ”Kebiasaan pola hidup dan makan sehat anak dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satu faktor yang paling utama adalah pengaruh pola makan dan kebiasaan orang tua,”tutur Sarah.

 Sarah menuturkan,walaupun tidak terjadi secara langsung, namun banyak orang tua yang menularkan pengaruh buruk dalam mengonsumsi makanan sehat kepada anaknya. Semisal dengan tidak membiasakan mengonsumsi makanan dengan gizi yang seimbang. Walaupun mikronutrisi dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah yang sedikit,namun bukan berarti mikronutrisi bisa disepelekan karena apabila kita kekurangan mikronutrisi bisa berdampak buruk pada kesehatan.

Untuk menghindari kurangnya asupan mikronutrisi, salah satunya bisa dilakukan dengan mengonsumsi daging sapi tanpa lemak. Padahal, dengan konsumsi daging sapi tanpa lemak,maka zat gizi dalam hal zat besi anak bisa terpenuhi asalkan dikonsumsi dalam jumlah yang cukup dan seimbang, tidak kurang dan tidak berlebihan.

”Hanya 2 dari 10 anak mengonsumsi daging sapi,”tutur Sarah saat temu media acara ”Beef Up your Breakfast on The Go Cooking Competition” yang diadakan oleh Meat & Livestock Australia (MLA) dan bekerja sama dengan Association of Culinary Professional (ACP) di Jakarta Convention Center beberapa waktu lalu. Standar konsumsi daging segar yang dicanangkan oleh organisasi pangan dunia (FAO) di tahun 2008 untuk memerangi kekurangan gizi, yaitu 33 kg/tahun/kapita. Sedangkan data pada 2007 dari Direktorat Jenderal Peternakan,Departemen Pertanian Indonesia, mengindikasikan bahwa rata-rata konsumsi daging sapi segar penduduk Indonesia hanya sekitar 0,53 kg/tahun/kapita, di mana angka tersebut sangat rendah dari standar yang disarankan.

 ”Konsumsi daging sapi yang disarankan adalah kurang dari 3 sampai 4 kali dalam satu minggu,” sarannya. Beberapa alasan kurang atau rendahnya asupan daging sapi pada anak-anak di Indonesia, di antaranya anak-anak yang berpendapat kurang menyukai makan daging sapi dengan alasan sulit dikunyah (alot/keras). Bahkan beberapa alasan dari ibu juga menyebutkan bahwa memasak daging sapi membutuhkan waktu yang lama. ”Mengonsumsi 122 gr daging sapi per hari dapat memenuhi kebutuhan zat besi.Untuk mendapatkan manfaat yang setara,kita harus mengonsumsi 7,9 kg ikan,” jelas Sarah.

Anak yang mengalami kurang zat besi sebagai salah satu mikronutrisi bisa menyebabkan turunnya kecerdasan intelektual juga kecerdasan emosi. Selain itu, juga dapat menyebabkan menurunnya kadar hemoglobin, yaitu suatu senyawa kimia dalam sel darah merah yang berfungsi untuk membawa oksigen ke seluruh tubuh, yang kita kenal dengan anemia.

”Apabila anak sudah mengalami anemia,itu berarti anak juga akan alami lemah, letih, dan lesu. Dan itu sangat mengganggu kesehatan dan pertumbuhan anak,”papar Sarah. Country Representative MLA di Indonesia, Isye Iriani menuturkan, untuk membantu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya mengonsumsi daging sapi tanpa lemak,maka beberapa kegiatan pun dilakukan, di antaranya dengan mengedukasi anak,orang tua,serta guru pada 40 sekolah di Jabodetabek dan Bandung.( inggrid namirazswara)

 

Sumber : http://www.seputar-indonesia.com