DRI IPB

Citra Baru Pertanian

rektor
Warta IPTEK

Citra Baru Pertanian

rektor

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Citra Baru Pertanian

 
Pembangunan pertanian di Indonesia sesungguhnya telah memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap pembangunan ekonomi nasional. Produktivitas tanaman pangan melalui varietas unggul, produksi peternakan dan perikanan menjadi tumpuan dalam mengatasi persoalan- persoalan pangan dan kelaparan selama ini.

Begitu juga dengan kontribusi perkebunan dan agroindustri, telah mampu mengantarkan pada kemajuan ekonomi bangsa dan perbaikan kinerja ekspor. Selain itu, meski Indonesia juga telah lama bertransformasi menjadi negara industri, tapi pada kenyataannya pertanian menjadi penyedia lapangan kerja terbesar.

Pada tahun 2008, misalnya penyerapan tenaga kerja di sektor pertanian mencapai 41,3 juta orang atau separuh dari angkatan kerja nasional. Sesungguhnya kinerja pertanian Indonesia jauh lebih komprehensif meliputi berbagai aspek dibandingkan kalau dinyatakan dengan angka pertumbuhan rata-rata sebesar 3,51% per tahun dalam empat dasawarsa terakhir berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO).

Menghadapi berbagai persoalan besar kehidupan manusia pada masa-masa mendatang yang mencakup pangan, energi dan lingkungan, peran sektor pertanian sesungguhnya menjadi semakin nyata. Pembangunan ekonomi Indonesia dihadapkan pada kenyataan tingginya laju pertumbuhan penduduk yang tidak sebanding dengan laju penyediaan pangan, semakin langkanya sumber energi fosil,

serta degradasi lingkungan hidup dan deplesi sumber daya alam yang tinggi akibat pemanfaatan sumber daya alam baik hutan,laut,lahan pertanian,mineral, dan air yang tidak memperhatikan kelestarian lingkungan,ke berlanjutan produksi dan dampak sosial.

Dampak pemanasan global dan perubahan iklim mengganggu kegiatan produksi pertanian dan penangkapan ikan di laut karena perhitungan musim tanam dan musim melaut tidak lagi presisi. Kami meyakini bahwa sesungguhnya persoalan-persoalan tersebut dapat diselesaikan melalui pembangunan pertanian secara holistik, integratif, dan komprehensif.

Tidak sedikit para pemimpin besar dunia mengingatkan dan menyadarkan peran penting pangan dan pertanian dalam kehidupan manusia.Bung Karno ketika meletakkan batu pertama pembangunan kampus Institut Pertanian Bogor pada tahun 1952,menyatakan: “…soal persediaan makanan rakjat ini, bagi kita adalah soal hidoep ataoe mati.Tjamkan, sekali lagi tjamkan, kalaoe kita tidak “ampakkan” soal makanan rakjat ini setjara besar-besaran, setjara radikal dan revoloesioner, kita akan mengalami tjelaka”.

Jawaharlal Nehru, juga pernah mengatakan: “Everything can wait, not agriculture… First of all, obviously, we must have enough food. Secondly, other necessities…”, atau 38 tahun silam, Henry Kissinger, mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat pernah mengungkapkan: “..Whoever has access to world oil, they will be able to control many countries in their hand.Whoever has access to food, they will be able to control people…”.

Rendahnya Animo Generasi Muda

Sayangnya, kesadaran yang tinggi akan peran penting pertanian terhadap keberlanjutan masa depan kehidupan manusia, tidak dibarengi dengan citra pertanian di mata masyarakat.Sarjana-sarjana pertanian kurang mendapat penghargaan yang memadai dibanding sarjana- sarjana lain. Bahkan, beberapa perguruan tinggi pertanian di beberapa daerah terancam bubar dan sektor pertanian dapat saja kehilangan satu generasi karena rendahnya minat generasi muda pada dunia pertanian.

Fenomena ini tampak dari menurunnya jumlah pendaftar pada fakultas pertanian sebagai salah satu jurusan yang menyiapkan tenagatenaga terampil di bidang pertanian. Berdasar data Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN, 2009) terdapat 2.894 kursi kosong pada program studi bidang pertanian di 47 perguruan tinggi negeri.

Data Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas, 2009), juga menyebutkan selama kurun 2005 sampai 2006 sebanyak 40 program studi pertanian di berbagai universitas/ PT gulung tikar,dan kini tinggal 20 PT/universitas baik negeri dan swasta yang masih membuka jurusan itu.

Di tingkat pendidikan dasar dan menengah juga demikian. Misalnya pada penerimaan siswa baru, calon murid yang mendaftar ke sekolah menengah pertanian (SPP-SPMA) mengalami penurunan hingga 55%. Selain tidak gencarnya promosi yang dilakukan, para pendaftar juga lebih memilih sekolah menengah kejuruan nonpertanian. Fenomena tersebut apabila terus dibiarkan, tidak menutup kemungkinan 5 sampai 10 tahun ke depan, pembangunan pertanian akan terhenti lantaran tidak ada motor penggerak dan tulang punggung yang menopangnya.

Tantangan PT Pertanian

Upaya perbaikan citra pertanian juga dapat dilakukan melalui perbaikan kualitas lulusan dan citra pendidikan tinggi pertanian. Pengembangan kurikulum pada program-program studi pertanian agar lebih adaptif dengan perkembangan teknologi dan relevan dengan kebutuhan masyarakat menjadi suatu keharusan.

Sarjana-sarjana pertanian juga perlu dibekali dengan karakter kewirausahaan (entrepreneurship) di bidang pertanian; seperti karakter produktif, kreatif, inovatif, tekun, gigih,pantang menyerah dan menggunakan teknologi secara efektif dan efisien. Secara umum,perguruan tinggi pertanian juga perlu mengambil peran penting dalam kegiatan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Pertama membangun Universitas Berbasis Riset (Research Based University) dan Enterpreneurial University.Dengan modal ini perguruan tinggi pertanian akan memiliki daya saing tinggi dan dapat berkompetisi secara sehat dengan perguruanperguruan tinggi lainnya di dunia. Upaya ke arah itu perlu dilakukan secara lebih progresif melalui upaya-upaya kondusif dan stimulatif.

Kedua, melaksanakan institutional building dan menerapkan good university governance untuk memastikan bahwa segenap program dan sumber daya dapat dikelola dengan baik. Ketiga, meningkatkan tanggung jawab sosial (social responsibility) untuk berkontribusi pada terciptanya dan meningkatnya kesejahteraan sosial (social prosperity) yang mencakup pemecahan masalah, pencerdasan dan pemberdayaan masyarakat, peningkatan pendapatan, dan penyediaan lapangan kerja.

Hal ini diharapkan dapat dicapai melalui produk lulusan, produk riset, dan produk usaha komersial yang dikembangkan perguruan tinggi pertanian. Kemampuan perguruan tinggi pertanian berkontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat luas akan berimplikasi balik terhadap peningkatan kepercayaan publik.

Pelaksana akademik pada perguruan tinggi pertanian, yaitu departemen/ jurusan, fakultas, pusat penelitian dan lembaga penelitian, diharapkan mampu meraih dana hibah untuk riset maupun dana riset kerja sama (collaborative research), yang selanjutnya dapat meningkatkan kualitas proses belajar mengajar,mendorong partisipasi mahasiswa dan dosen dalam berbagai paket riset yang mempercepat laju lulusan,jumlah publikasi ilmiah, perolehan paten dan produk riset untuk usaha komersial.

Peningkatan laju lulusan, publikasi riset, dan perolehan paten akan menjadi faktor penting dalam penguatan citra publik bagi perguruan tinggi pertanian. Peluang komersialisasi produk riset dan teknologi pertanian oleh masyarakat luas juga berimplikasi balik pada peningkatan citra publik serta pengembangan usahausaha komersial.Perbaikan kepercayaan publik akan memperbesar berbagai hubungan kemitraan baik dengan sektor swasta maupun pemerintah yang menjadi kekuatan riset kolaboratif yang besar.

Citra Baru Pertanian

Stigma negatif selama ini tentang dunia pertanian sebagai usaha kecil yang kumuh,penuh risiko, dan margin keuntungan yang kecil, perlu diubah dan digeser menjadi citra baru pertanian melalui berbagai kegiatan kampanye dan promosi. Pertanian bukan sekedar rutinitas mencangkul di sawah dan ladang.

Pertanian jika dikelola secara profesional dan komersial, akan menghasilkan keuntungan yang besar dan menjanjikan. Agrinex International Expo 2010 yang diselenggarakan bersama antara IPB, Kementerian Pertanian dan Performax,pada 12–14 Maret 2010, menunjukkan bahwa agribisnis merupakan salah satu pilihan dan peluang bisnis yang prospektif pada masa-masa mendatang.

Perpaduan antara sumber daya alam yang melimpah (pertanian, perkebunan,perikanan, peternakan dan kehutanan), volume pasar dalam negeri yang besar, sumber daya manusia yang berkualitas,ketersediaan teknologi dan peran investasi dari industri akan menjadikan agribisnis sebagai satu pilar utama dalam pembangunan ekonomi nasional.(*)

HERRY SUHARDIYANTO
Rektor Institut Pertanian Bogor        

Sumber : http://www.seputar-indonesia.com