Biasakan Menanam dan Konsumsi Cabai Kering
Biasakan Menanam dan Konsumsi Cabai Kering
Biasakan Menanam dan Konsumsi Cabai Kering
MAKIN PEDAS: Pedagang di Pasar Anyar menjajakan cabai yang kini harganya makin melambung.
Selain perilaku para tengkulak, cuaca ekstrem dan bencana Gunung Merapi menjadi penyebab melambungnya harga cabai. Sedangkan tingkat konsumsi cabai di masyarakat tetap tinggi. Berbagai solusi pun ditawarkan. Seperti apa?
SEKITAR 20 persen sayuran di Indonesia dipegang cabai. Makanya, saat pasokan tipis, para tengkulak dan agen cabai menaikkan harga hingga membuat ibuibu rumah tangga menjerit. Ada tiga komponen ynag memegang peranan penting dalam fluktuasi harga cabai, yaitu petani sebagai produsen, rumah tangga sebagai konsumen dan pemerintah sebagai pengambil kebijakan. Peneliti Utama Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB), Muhammad Syukur mengatakan, petani memegang peranan penting dalam penyediaan cabai. Peneliti utama tanaman ini mengatakan, banyak masyarakat Indonesia yang mengosumsi cabai segar saja. Dosen IPB ini menyarankan, ibu-ibu rumah tangga membiasakan mengonsumsi cabai olahan, seperti cabai kering. Sehingga perimbangan suplai lebih mudah diatur. “Banyak cara membuat cabai kering. Cabai yang segar dipanaskan melalui sinar matahari atau oven. Dengan begitu bisa tahan lama. Dengan cara mencelupkan ke air, kualitas cabai juga masih terjaga,” terangnya. Saat ini, paparnya, masyarakat Malaysia sudah membiasakan mengonsumsi cabai kering untuk keperluan memasak. Selain mengonsumsi cabai kering, ibu-ibu rumah tangga harusnya sudah menanam cabai melalui polybag. “Jadi saat harga cabai naik, mereka memanfaatkan cabai yang ditanam sendiri,” katanya. Selain itu, sambungnya, pemerintah harus berperan aktif menekan tingginya harga cabai. Pemerintah harus mengontrol fluktuasi harga. Menurut dia, tak semua wilayah bisa menanam cabai, salah satunya di Bogor. Belum lagi ditambah varietas yang saat ini didominasi produksi luar negeri. “Dari 152 varietas, sebagian besar merupakan produksi luar negeri dan belum tentu cocok di Indonesia. Biasanya varietas itu tak kuat menahan penyakit,” ucapnya.(*) |