Baru, Lab Polimer & Surfaktan SBRC LPPM IPB
Baru, Lab Polimer & Surfaktan SBRC LPPM IPB
Baru, Lab Polimer & Surfaktan SCRC LPPM IPB
Rektor IPB Herry Suhardiyanto hari ini meresmikan Laboratorium Polimer dan Surfaktan Pusat Penelitian Surfaktan dan Bioenergi atau Surfactant and Bioenergy Research Center (SBRC). Laboratorium teranyar IPB ini dilengkapi fasilitas yang memadai untuk proses enhanced oil recovery (EOR).
“Teknologi EOR yang menggunakan surfaktan dan polimer ini merupakan teknologi baru yang belum pernah diaplikasikan pada sumur minyak di Indonesia untuk skala lapangan. Bahkan di seluruh dunia masih sangat sedikit perusahaan yang pernah mencobanya,” ujar Herry seperti dikutip dari keterangan tertulisnya kepada okezone, Jumat (11/11/2011).
Minimnya aplikasi teknologi EOR tersebut disebabkan tingginya biaya produksi surfaktan dan biaya aplikasinya. Selain itu, tidak adanya jaminan keberhasilan akibat kompleksitas dan spesifitas dari masing-masing lapangan minyak juga turut menjadi penyebab.
“Kondisi ini justru menjadi tantangan bagi para pemangku kepentingan di bidang agroindustri dan perminyakan untuk bersinergi mempersembahkan teknologi baru yang bermanfaat tidak hanya bagi Indonesia, namun juga bagi dunia,” imbuh Herry.
Laboratorium surfaktan dan polimer IPB ini terealisasi berkat kerja sama antara IPB dengan Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (BP Migas) PT Pertamina, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, serta PT Bank Mandiri.
Kepala BP Migas R Priyono memaparkan, Indonesia memiliki sekira 160 jenis minyak, atau paling banyak di dunia. Tiap jenis membutuhkan ahli untuk analisa secara kompleks. Tidak hanya itu, untuk tiap proses analisis, BP Migas sedikitnya menggelontorkan dana USD1,2 juta.
“Secara nominal ini cukup banyak, tapi bila ditinjau dari industri perminyakan, jumlah ini termasuk sedikit. Chevron saja menggelontorkan dana penelitian USD107 juta dollar untuk menjaga kesinambungan produksi minyaknya,” papar Priyono.
Idealnya, imbuh Priyono, setiap satu barel minyak yang habis dikonsumsi, dapat digantikan oleh satu barel cadangan baru. Kegiatan EOR tadi dapat menjadi alternatif dalam meningkatkan produksi minyak dengan cadangan yang sangat terbatas.
Selain IPB, BP Migas juga menggandeng enam perguruan tinggi lain untuk mengembangkan teknologi EOR. Keenam kampus tersebut adalah Universitas Indonesia (UI), Universitas Padjdjaran (Unpad), Universitas Gajah Mada (UGM), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Universitas Pancasila.
Kerja sama ini juga meliputi aspek sosial dan ekonomi, termasuk bagaimana mencegah terjadinya konflik di area pertambangan.(rfa)