Bahan Bakar Murah Melahirkan Inovasi Teknologi
Bahan Bakar Murah Melahirkan Inovasi Teknologi
|
|
|
|
| Mengembangkan biji pohon bintaro sebagai sumber energi alternatif tidak hanya memecahkan ketergantungan pada bahan bakar minyak (BBM),tetapi juga menjadi pemicu lahirnya inovasi teknologi.
PERNAHKAH tebersit bahwa generator set (genset) ternyata dapat dihidupkan meski diisi dengan minyak biji bintaro? Di tangan Ketua Departemen Teknik Mesin dan Biosistem Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) Desrial, hal yang sepertinya tidak mungkin itu menjadi nyata. Desrial yang tergabung dalam tim penelitian pengembangan minyak bintaro IPB bekerja sama dengan PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) itu berhasil memodifikasi mesin diesel itu menjadi “ramah” dengan bahan bakar nabati tersebut.
“Hasil penelitian menunjukkan bahwa minyak bintaro juga dapat berfungsi sebagai bahan bakar pengganti solar.Dengan kata lain,minyak bintaro bisa menjadi biodiesel,” kata doktor mesin ini saat uji coba pemakaian minyak bintaro sebagai bahan bakar alternatif di Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan, Riau, Selasa (28/12/10) lalu. Modifikasi itu terletak pada penciptaan konverter dan tabung tambahan sebagai wadah minyak bintaro.Konverter itu berupa elemen pemanas (lient exchanger) yang berguna meningkatkan suhu minyak bintaro sehingga viskositas (tingkat kekentalan)-nya turun mendekati viskositas solar. “Kekentalan minyak bintaro memang lebih tinggi sekitar 30 cps dari solar yang 3-5 cps. Karena itu, saat minyak bintaro masuk ke mesin diesel, harus dipanaskan pada suhu sekitar 70 derajat Celcius sehingga kekentalannya mencair mendekati solar,”ungkapnya. Lantaran tidak sama persis dengan solar,minyak bintaro sebagai biodiesel tidak dapat digunakan secara langsung sebagai bahan bakar. Pada uji coba di Teluk Meranti itu,awalnya diesel dipasok dengan menggunakan solar. Diesel dihidupkan dan dibiarkan menyala sekitar 4-5 menit. Setelah melewati waktu tersebut, minyak bintaro yang diletakkan di tabung khusus (eksternal) dapat dialirkan ke mesin. Dengan catatan,aliran solar ditutup. “Jadi ada katup pada selang bahan bakar yang mengalir ke mesin.Ketika minyak bintaro masuk, solar dihentikan.Mesin diesel selanjutnya mengonsumsi minyak bintaro untuk hidup,”lanjut dia. Desrial, menyatakan kekentalan yang tinggi menyebabkan mesin diesel tetap harus “dipancing” terlebih dahulu dengan bahan bakar aslinya yakni solar. Peneliti berambut ikal menambahkan, dengan proses penciptaan minyak bintaro yang demikian murah, biodiesel ini sangat ekonomis. Perbandingannya, 1:1 ? dan 1:1,5. Artinya,1 jam genset 2.000 watt menyala mengonsumsi 1 ? liter solar, sementara dengan minyak bintaro membutuhkan 1,5 liter.“Memang lebih boros minyak bintaro, tapi bandingkan dengan harga bahan bakar keduanya,”kata dia. Membuat minyak bintaro memang sangat mudah.Menurut Ketua Tim Peneliti Pengembangan Minyak Nabati dari Biji Bintaro IPB ArisPurwanto, minyak bintaro dihasilkan dari pemerasan biji bintaro yang telah dikeringkan.Tahap pertama pembuatan adalah mengumpulkan biji bintaro.Aris menyarankan, biji diambil dari buah yang telah matang dan jatuh ke tanah.“Selain kualitasnya bagus, racun pada buah juga sudah berkurang,” kata dia.Untuk menghasilkan 1 liter minyak bintaro,diperlukan sekitar 2,9 kilogram biji bintaro kering. Biji bintaro ini kering kemudian disangrai, kemudian diperas. IPB lagi-lagi telah melakukan inovasi teknologi dengan menciptakan alat pemerasan (pengepresan) biji bintaro. Dua cara yang umum digunakan pada pengepresan mekanis biji bintaro adalah pengepresan hidrolik dan pengepresan berulir. Pengepresan hidrolik adalah pengepresan dengan menggunakan tekanan. Tekanan yang dapat digunakan sekitar 140,6 kg/cm. Besarnya tekanan yang digunakan akan memengaruhi minyak bintaro yang dihasilkan. Dengan pengepresan hidrolik, dapat dihasilkan rendemen minyak sampai 30%.“Masyarakat bisa membuat sendiri minyak ini. Teknologinya cukup murah dan prosesnya sederhana.Kalau itu terwujud, mereka tak perlu seterusnya bergantung pada solar atau minyak tanah,”ungkap dia. Selain genset,tim IPB juga berupaya mengembangkan minyak bintaro sebagai bahan bakar mesin diesel kapal. Kawasan Teluk Meranti berada di tepi Sungai Kampar. Terkait inovasi teknologi ini, PT RAPP sebagai mitra tim peneliti IPB mengaku mendukung penuh. Direktur Utama PT RAPP Kusnan Rahmin mengatakan, RAPP berkomitmen membantu memajukan pembangunan kawasan Teluk Meranti. Pengembangan minyak bintaro diharapkan memberikan manfaat secara ekonomi dan pengembangan sumber daya manusia pada masyarakat Teluk Meranti. “Pemanfaatan energi terbarukan dari pohon bintaro ini juga diharapkan membawa manfaat untuk kelestarian lingkungan,” kata Kusnan. (zen teguh/bersambung) Sumber : http://www.seputar-indonesia.com
|
