Awasi Anak Hingga Menikah
Awasi Anak Hingga Menikah
Awasi Anak Hingga Menikah
Pada kegiatan dengan tema “Revitalisasi Peran Ibu dalam Pembentukan Kualitas Anak” itu, Dwi mengatakan, keluarga merupakan kunci kesehatan jiwa dan spiritual. “Saya mengutip sebuah penelitian bahwa persentase anak yang mengalami masalah psikologis cenderung kecil jika kualitas perkawinannya baik,” ungkap dia.
Sebaliknya, lanjut dia, persentase anak yang mengalami masalah psikologis cenderung tinggi jika berada dalam keluarga dengan kualitas perkawinan buruk.
Tak hanya itu, ia juga mengungkapkan, pentingnya pengawasan terhadap anak. Berbeda dengan negara Barat yang membebaskan anak setelah usia 18 tahun, di Indonesia hal itu tak bisa diberlakukan.
“Berdasarkan budaya dan kultur di negara ini, pengawasan terhadap anak harus tetap dilakukan sampai anak memiliki tanggung jawab terhadap kehidupannya sendiri yaitu setelahmenikah,” jelas perempuan berkerudung ini.
Lebih lanjut ia memaparkan, interaksi dengan anak harus tetap terjaga. Pasalnya, hal itu sangat mempengaruhi kehidupan dan kualitas mereka di masa depan.
“Ini bukan berarti jika anak sudah menginjak dewasa, orangtua tak lantas mengurangi intensitas interaksi. Justru harus tetap seimbang agar anak tersebut bisa mengerti keberadaan orangtua khususnya peran ibu,” paparnya. Sementara itu, Dwi menilai kualitas tumbuh kembang anak terdiri dari beberapa karakteristik. Antara lain, fisik kesehatan, intelektual dan kreativitas, sosial dan emosi, moral, karakter dan spiritual anak.
“Dengan pengasuhan yang tepat, kematangan sosial emosi akan meningkatkan kemampuan reaksi terhadap stres yang secara tak langsung akan mempengaruhi kesehatan. Selain itu, pengasuhan tepat juga akan mempengaruhi terhadap keberhasilan akademik anak,” tandasnya. (mia)