Program Responsif Gender belum Optimal
Program Responsif Gender belum Optimal
“Sementara, kenyataannya kini perempuan masih jauh tertinggal ketimbang lakilaki,” ujarnya.
Keprihatinan itu, kata Titik, kian jelas saat dirinya berkecimpung pertama kali di PSW pada 1991 dengan jabatan asisten peneliti. Dari berbagai penelitian yang dilakukan, bungsu dari sebelas bersaudara ini, kian mantap dan tertarik untuk lebih mengembangkan perempuan. Salah satu penelitian yang pernah dilakukan adalah riset terhadap perlakuan Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Malaysia dan Filipina. Di sana, dia menyaksikan sendiri bagaimana perempuan harus berjuang mempertahankan hidup di negeri orang, mulai dari kedatangan hingga kepulangan mereka ke tanah air.
Dari riset-riset tersebut, Titik bisa menarik kesimpulan, jika dilihat dari kebijakan pembangunan responsif gender saat ini belumlah optimal. Salah satu faktor yang membuat program itu tidak berhasil karena inpres yang lemah.
“Seharusnya bisa jadi undang-undang kesetaraan gender, sehingga bisa lebih kuat,” ujarnya.
Selain itu, menurut Titik, untuk konsisten menekuni PSW karena dirinya ingin mengembalikan PSW sebagai satu pusat bukan divisi, sebagaimana pendiri-pendiri sebelumnya.
“Atau lebih tepatnya menjalankan pemberdayaan, pengarusutamaan gender di wilayah pertanian dan pedesaan yang berkelanjutan,” pungkasnya.(nie)