DRI IPB

Manggis Bahan Terbaik Antioksidan

Prof Roedhy Poerwanto
Warta IPTEK

Manggis Bahan Terbaik Antioksidan

Prof Roedhy Poerwanto

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Manggis Bahan Terbaik Antioksidan

BOGOR- Tahukah Anda, jika permintaan manggis dari Jerman dan Cina begitu banyak? Permintaan tersebut tampaknya terkait penemuan fungsi buah asli Indonesia ini sebagai bahan baku obat atau fitofarmaka. Manggis ini merupakan bahan terbaik untuk produksi antioksidan guna memperkuat kekebalan tubuh.

Karenanya, peneliti IPB, Prof Roedhy bersama timnya melakukan penelitian dengan mengkaji teknologi produksi pada manggis. Prof Roedhy mengaitkan faktor budidaya dengan akumulasi xanthone dalam kulit manggis. “Penelitian mengenai xanthone belum banyak dilakukan. Peluang ini seharusnya dimanfaatkan Indonesia sebagai negara penghasil manggis terbesar di dunia,” terangnya.

Penelitian dilakukan bersama sejumlah peneliti, di antaranya Ani Kurniawati, Herry Cahyana, Dzajuli serta Hernani. Mereka merupakan peneliti-peneliti yang berkompeten dari IPB, UI dan Badan Litbang Kementerian Pertanian. Penelitian yang dibiayai melalui program kerjasama antara perguruan tinggi dengan Kementerian Pertanian ini penting dilangsungkan.

Menurut Prof Roedhy, hal itu karena biosintesis senyawa alam, dalam hal ini kelompok fenol, telah banyak dilaporkan dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan serta teknik budidaya yang dilakukan. “Cara membudidayakan juga sangat berpengaruh,” imbuhnya.

Ia mengatakan, mengingat manfaat dan nilai ekonomi yang demikian besar, sungguh sayang jika potensi manggis tak termanfaatkan dengan baik. Menurut dia, ironis sebenarnya jika potensi ini justru dikembangkan negara lain. “Itu berarti manfaat ekonomi dari Ratu Buah Indonesia ini akan banyak dinikmati negara lain,” ujarnya.

Saat ini, lanjutnya, produk yang mengandung xanthone dari kulit manggis berupa jus ataupun kapsul, marak ditawarkan melalui internet dalam berbagai merek dari negara-negara yang bukan penghasil manggis. Sementara buah manis asam ini menyebar di seluruh nusantara, dengan sentra utama di Sumatera, Jawa, Bali, Lombok dan sebagian Kalimantan.

Prof Roedhy menambahkan, penelitian tersebut menghasilkan beberapa rekomendasi. Di antaranya, pengembangan budidaya kulit manggis sebagai bahan industri fitofarmaka. Selain itu, produksi xanthone maupun alpha mangostin dapat menggunakan buah dari sentra produksi Bogor, Purwakarta, Purworejo, Tasikmalaya maupun Trenggalek. Pasalnya, buah yang berasal dari tipe agroekologi podzolik-iklim A merupakan bahan terbaik untuk produksi antioksidan.(ric)

 
Sumber :  http://www.radar-bogor.co.id