DRI IPB

Bioteknologi Tingkatkan Produksi Akuakultur Nasional

ipb
Warta LPPM

Bioteknologi Tingkatkan Produksi Akuakultur Nasional

 ipb

Bioteknologi Tingkatkan Produksi Akuakultur Nasional

BOGOR – Belakangan ini, populasi tuna sirip biru (Thunnus orientalis) menurun drastis akibat  maraknya penangkapan ikan secara besar-besaran. Untuk mengatasi masalah tersebut, perlu memproduksi biota akuatik di lingkungan terkontrol (aquaculture). Hal tersebut disampaikan guru besar Tokyo University of Marine Science and Technology Japan, Prof Goro Yoshizaki dalam simposium bertajuk Transplantasi Sel Sperma pada Ikan, di IPB ICC, Kamis (7/10). Prof Goro menyatakan, beberapa kekurangan yang ada pada tuna sirip biru membuat biaya pengeluaran produksi spesies ini menjadi tinggi. Hal itu, lanjut dia, berhubungan dengan masalah ruang dan waktu, biaya serta upah buruh. Menurut dia, jika sel sperma tuna sirip biru bisa ditransplantasikan ke ikan bonito, sel telur tuna sirip biru bisa diproduksi dengan cepat dan mudah, bahkan dalam tangki yang kecil.

“Bonito adalah spesies famili terdekat, yang bisa mencapai masa subur hanya dalam waktu dua tahun,” ujarnya dalam bahasa Inggris.

Simposium Nasional Bioteknologi Akuakultur III 2010 yang diadakan Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB itu, Prof Komar Sumantadinata turut memberikan materi. Ia mengangkat tema “Pemuliaan untuk Memperbaiki Kualitas Induk dan Produksi Benih dalam Perikanan Budidaya”.

Menurut guru besar IPB tersebut, perikanan budidaya Cina yang produksinya tertinggi di dunia patut dijadikan pembanding. “Kita bisa mencontoh Cina dalam upaya mencapai peningkatan produksi 355 persen perikanan budidaya Indonesia 2009 sampai 2014,” katanya.

Prof Komar juga membahas upaya pemuliaan di Indonesia, untuk menyediakan induk dan benih unggul sebagai salah satu pendukung peningkatan produksi perikanan budidaya. Sementara itu, Ketua Departemen Budidaya Perairan, FPIK IPB, Odang Carman mengatakan, simposium itu terwujud atas kerjasama antara Departemen Budidaya Perairan dengan Direktorat Program Diploma IPB. Menurut dia, simposium itu dihadiri sekitar 200 peserta dari perguruan tinggi, lembaga penelitian, mahasiswa dan peserta industri atau swasta. Odang menyampaikan, keynote speaker simposium ini adalah Menteri Kelautan dan Perikanan yang diwakili Dirjen Perikanan Tangkap, Kementerian Kelautan dan Perikanan RI yang bertemakan Dukungan Bioteknologi dalam Peningkatan Produksi Akuakultur.

Simposium menghadirkan  empat pembicara utama. Di antaranya, Prof Goro Yoshizaki Albert G J Tacon (Hawaii Institute of Marine Biology, USA), serta Domenico Caruso (D’institut de recherche pour le developpement, IRD Montpellier, France).

Menurut dia, pihaknya berharap kegiatan tersebut bisa menjadi forum yang sangat bermanfaat bagi masyarakat akuakultur, dalam rangka menggapai dan mewujudkan cita-cita akuakultur. “Penyediaan pangan, produksi ikan hias, produksi bahan baku industri, serta tujuan pariwisata dan tujuan konservasi di Indonesia,” imbuhnya. Odang menambahkan, peran akuakultur di masa mendatang, menjadi kian besar dan penting dalam penyediaan pangan dunia. Food and Agriculture Organization (FAO) dalam The  State of World Fisheries and Aquaculture 2008 melaporkan  bahwa hingga 2006, kontribusi akuakultur terhadap produksi perikanan dunia telah mencapai 47 persen dengan laju pertumbuhan 8,1 persen per tahun. Sementara itu, sambung dia, Indonesia menargetkan produksi akuakultur meningkat 353 persen pada 2014. (cr12)

 
Sumber : http://www.radar-bogor.co.id