DRI IPB

Kombinasi Teknologi Lubang Resapan Biopori (LRB) dan Saluran Peresapan Biopori (LRB) Mampu Atasi Permasalahan Lahan Kering Terlantar

lppm
Warta LPPM

Kombinasi Teknologi Lubang Resapan Biopori (LRB) dan Saluran Peresapan Biopori (LRB) Mampu Atasi Permasalahan Lahan Kering Terlantar

 
lppm

Kombinasi Teknologi  Lubang Resapan Biopori (LRB) dan Saluran Peresapan Biopori (SRB) Mampu Atasi Permasalahan Lahan Kering Terlantar

 

Pada Hari Selasa, Tangal 3 Agustus 2010, bertempat di Ruang Sidang LPPM IPB disampaikan hasil penelitian dengan judul “Aplikasi Teknologi Peresapan Biopori untuk Meningkatkan Ketersediaan Air Tanah dan Produktivitas Tanaman, serta Mencegah Terjadinya Kerusakan Lahan oleh Aliran Permukaan dan Erosi” yang dilakukan oleh tim peneliti : Kamir R. Brata, Yayat Hidayat dan Rahayu Widiastuti.

 

Pengujian ilmiah teknologi biopori ini didanai dari program Penelitian Unggulan IPB skema Penelitian Unggulan Aplikatif Tahun Anggaran 2009.  Secara umum teknologi ini diperuntukkan untuk mengatasi permasalahan banyaknya lahan kering terlantar akibat menurunnya produktivitas lahan.  Lahan kering ini umumnya sangat tergantung pada curah  hujan, peka terhadap erosi dan terjadi akibat pengolahan tanah yang sangat intensif yang menghancurkan biopori alami yang terjadi akibat aktivitas akar, cacing dan organisme tanah lainnya.  Pada umumnya teknologi micro catchmen yang banyak diterapkan di negara lain tidak cocok untuk diterapkan di lahan kering Indonesia. Penelitian ini dilakukan di Kebun Percobaan Cikayan, Kampus IPB Darmaga.

 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi teknologi Lubang Resapan Biopori (LRB) dan Saluran Peresapan Biopori (SPB) dengan ukuran diameter biopori 20 cm dengan dalam 15 cm dengan interval 2 meter terbukti sangat efektif mencegah terjadinya aliran permukaan, erosi dan kehilangan unsur hara pada lahan pertanian kering dengan kemiringan 5-15%.  Melalui penerapan teknologi ini sedimen yang diselamatkan sangat signifikan, diantaranya bahan organik dan unsur hara C, N, P, K, Ca dan Mg dapat dimanfaatkan kembali untuk diaplikasikan ke lahan tanam pada musim tanam berikutnya.

 

Dengan hasil produksi jagung pipilan sebesar 4 ton per Ha dan padi sebesar 5 ton per Ha, teknologi ini dinilai sebagai teknologi aplikatif yang dapat mendukung peningkatan produktivitas tanaman  pangan nasional.

 

Disamping itu kombinasi LBR dan SPB ini mampu meningkatkan keanekaragaman fauna tanah yang dalam jangka panjang sangat bermanfaat dalam konvervasi lahan untuk menunjang pertanian yang berkelanjutan.  Disamping itu teknologi ini terbukti mampu meredam anomali iklim melalui mekanisme  konvervasi airnya sehingga dapat mempertahankan produktivitas lahan dan tanaman.

 

Teknologi ini dapat diterapkan dihampir semua lahan kering secara ekonomis dengan catatan bahwa kedalaman lubang biopori disarankan jangan melebihi kedalaman air tanah dan besarnya lubang dan guludan yang dibuat harus disesuaikan dengan kemiringan tanah.

 

Ke depan diharapkan teknologi unggulan IPB ini dalam jangka panjang dapat memecahkan permasalahan rendahnya produktivitas lahan kering dan mendukung  ketahanan pangan nasional.(LPPM-IPB)