DRI IPB

Diawali Dengan Penanaman Pohon Kina, Kebun Raya Cibodas, Prakarsa Ahli Botani Belanda

http://202.146.5.42/upload/photo/2009/05/22/f937bb342302ab2f742f59625e0c61b2.jpg
Warta IPTEK

Diawali Dengan Penanaman Pohon Kina, Kebun Raya Cibodas, Prakarsa Ahli Botani Belanda

http://202.146.5.42/upload/photo/2009/05/22/f937bb342302ab2f742f59625e0c61b2.jpgDiawali Dengan Penanaman Pohon Kina, Kebun Raya Cibodas, Prakarsa Ahli Botani Belanda

Ada sebuah ungkapan “Seminggu menghirup udara Jakarta. Cukup sehari dengan menghirup udara Cibodas”. Itu, menggambarkan masih asri, dan sehatnya udara di Cibodas, karena belum tercemar polusi.

KEBUN Raya Cibodas, salah satu obyek wisata alam yang berada di lereng Gunung Gede – Pangrango, Cianjur, Jawa Barat, yang indah alami, menyimpan banyak pesona. Sehingga obyek wisata yang satu ini banyak dijunjungi wisatawan nusantara maupun mancanegara.

Keterkenalan Kebun Raya Cibodas, tentu saja tidak hanya terkenal di Indonesia, tetapi terkenal pula di dunia. Karena menyimpan berbagai koleksi tanaman kekayaan alam, disamping memiliki udara yang nyaman dan asri.

Boleh jadi, karena udara di Kebun Raya Cibodas masih asri, dan menyehatkan, ada satu ungkapan “Seminggu menghirup udara Jakarta. Cukup sehari menghirup udara Cibodas”. Ungkapan itu, menggambarkan udara di Kebun Raya Cibodas, yang sangat baik bagi kesehatan.

Berdirinya Kebun Raya Cibodas, awalnya tidak terlepas dari Pemerintahan Hindia Belanda, yang telah menjajah bangsa Indonesia selama 350 tahun. Dibalik pahit getirnya ketika Belanda menjajah, setelah hengkang dari negeri ini, banyak peninggalannya yang kemudian hari memberikan manfaat cukup besar bagi dunia ilmu pengetahuan.

Salah satunya, yaitu Kebun Raya Cibodas, yang didirikan atas prakarsa para ahli botani berkebangsaan Belanda atas restu Pemerintahan Hindia Belanda, dan merupakan kebun raya kedua setelah Kebun Raya Bogor, yang juga keberadaannya sangat terkenal di seluruh dunia.

Ciri spesifik

Pendirian Kebun Raya Cibodas, diawali dengan penanaman pohon kina tanggal 11 April 1852, ketika zaman Pemerintahan Raja William III oleh Jonhannes Ellias Teysmann dengan menanam pohon kina Chincona calisaya wedd yang pertama di kebun arbei (thestrawberry) milik Gubernur Jenderal Hindia Belanda (Van Gorkom) Blok Pasir Tjibodas lereng Gunung Gede, yang kemudian sekarang berkembang menjadi Kebun Raya Cibodas.

Tanaman kina tersebut, berasal dari Bolivia, Amerika Serikat yang dibawa oleh HA Weddell, yaitu pada tahun 1846, berupa biji yang kemudian disemaikan di Perancis. Pada tanggal 1 Desember 1851 kapal Frederick Hendrik yang dinahkodai P Huidekoper meninggalkan dermaga Negeri Belanda menuju P. Jawa yang di atas geladaknya terdapat bibit kina yang kelak bernilai tinggi bagi sejarah Indonesia.

Tanaman hidup itu, ditempatkan dalam sebuah kotak khusus, yang dijaga ketat dan sangat hati-hati selama dalam perjalanan menuju P. Jawa, dan tiba di dermaga Batavia (Jakarta) dengan kondisi yang sangat kritis. Namun setelah ditanam tumbuh dengan baik.

Disamping itu, Kebun Raya Cibodas memiliki ciri spesifik dengan adanya pohon kayu putih (Eucalyptus spp), Araucaria bidwilli dan A Chuninghamii, yang merupakan tumbuhan dataran tinggi basah.

Dalam kurun waktu yang cukup panjang, Kebun Raya Cibodas, yang berada dibawah naungan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) itu, telah memberikan sumbangan nyata bagi dunia ilmu pengetahuan. Prospek pengembangannya akan selalu diperlukan sebagai kawasan konservasi bekas situ (danau).

Keberadaan Kebun Raya Cibodas dewasa ini, sesuai dengan SK Ketua LIPI tanggal 17 Januari 1987 No. 25/KEP/D.5/87 mempunyai tugas melakukan inventarisasi eskplorasi dan konservasi tumbuhan, memberikan jasa ilmiah dibidang arsitektur landskap.

Melayani masyarakat untuk menumbuhkembangkan apresiasi terhadap alam, dan melakukan evaluasi hasil inventarisasi, eksplorasi, dan konservasi tumbuhan yang berhabitat tinggi basah.

Dengan segala kebradaaannya Kebun Raya Cibodas, juga merupakan lembaga konservasi flora ex-situ yang telah terkenal di seluruh dunia, terutama di lingkungan kebun raya di dunia. Karena secara berkesinambungan melakukan tukar-menukar material tanaman dengan menggunakan index seminum sebagai buku panduan.

Membuka wawasan

Dalam perkembangannya yang tentu saja akan terus berkembang seiring dengan perjalanan waktu untuk kebutuhan ilmu pengetahuan terus dilakukan penataan. Koleksi tanaman selain pohon perdu dan herba terdiri dari koleksi anggrek, kaktus-kaktusan, sukulen, dan paku-pakuan. Koleksi paku-pakuan sebagian ditempatkan di Lath House dan sebagian ditanam di kebun, dan koleksi lainnya disimpan di rumah kaca.

Namun hingga saat ini, masih ada sebagian masyarakat memandang Kebun Raya Cibodas hanya sebagai tempat rekreasi belaka. Padahal, masyarakat diharapkan lebih meningkatkan perhatiannya terhadap Kebun Raya Cibodas sebagai sarana apresiasi terhadap lingkungan alam. Sekaligus membuka wawasan untuk dapat mengenal keanekaragaman tumbuhan, memahami cara kehidupan tumbuhan dan budi dayanya.

Di Kebun Raya Cibodas terdapat beberapa lokasi strategis yang banyak dikunjungi, diantaranya Rumah Kaca, JI Araucaria, Air Terjun Cibodas, dan lokasi Landskap beserta kolam air mancur sebagai tempat mengoleksi tanaman air.

Tidak sedikit pula, pelajar, mahasiswa yang datang ke Kebun Raya Cibodas, untuk melakukan penelitian atau melakukan kegiatan karya ilmiah. Atau untuk menambah wawasan tentang aneka tumbuhan yang banyak dimiliki Kebun Raya Cibodas yang menjadi kebanggaan bangsa Indonesia.

ArtikelPopuler

» Kontak : UPT BKTKR Cibodas

Sumber : http://www.lipi.go.id/